Soimah dan suaminya saat terduduk lesu di depan makam anaknya, AM, santri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jatim (Dok. Instagram @soimah_didi)

DETAK-PALEMBANG.COM, PALEMBANG – Kematian AM (16), santri kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Ponorogo Jawa Timur (Jatim), membawa duka mendalami bagi Soimah dan keluarga besarnya.

Putra sulungnya meninggal dunia pada hari Senin (22/8/2022) pagi sekitar pukul 06.45 WIB, namun pihak ponpes baru memberi kabar sekitar pukul 10.40 WIB di hari yang sama.

Kematian anaknya yang mencurigakan, akhirnya disampaikan Soimah, di depan pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea, ketika menceritakan kembali kisah dukanya kehilangan putra sulungnya, Albar Mahdi (16).

Pertemuan mereka terjadi saat Hotman Paris Hutapea bertandang ke Palembang Sumatera Selatan (Sumsel), dalam rangka mendampingi korban pemukulan anggota DPRD Palembang, MZ, Minggu (4/9/2022).

Soimah menceritakan saat dia dan keluarganya mendapatkan kabar jika Albar Mahdi, anaknya sudah meninggal dunia sekitar pukul 06.45 WIB. Namun mereka baru dikabari sekitar pukul 10.40 WIB, di hari Senin (22/8/2022).

Didampingi ayahnya, jenasah Albar, siswa kelas 5i Pondok Modern Darussalam Gontor 1 Ponorogo Jatim, tiba di rumah duka di Kelurahan Sungai Selayur Kecamatan Kalidoni Palembang, pada hari Rabu (23/8/2022) siang.

Jasad Albar Mahdi akhirnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Sungai Selayur, pada Rabu sore, tak jauh dari rumah duka.

“(Meninggal dunia) diduga karena tindak kekerasan. Sudah dikubur, tidak ada visum, belum buat laporan polisi. Karena pertimbangan menyangkut lembaga besar, Gontor. Iya (meninggal dunia di Ponpes Gontor 1),” ucapnya kepada Hotman Paris, yang ditayangkan di akun @hotmanparisofficial, Selasa (5/9/2022).

Hotman Paris pun melihat foto kondisi jenasah menduga, anak Soimah mengalami tindakan kekerasan. Pengacara kondang ini pun meminta kepada Polda Jatim dan Polres Ponorogo Jatim, untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

Usai viral di medsos, Soimah akhirnya membuat surat terbuka untuk Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim, yang berisi meminta kejelasan atas meninggalnya sang anak tercinta.

Soimah meminta keadilan kepada semua pihak, agar bisa membantunya atas berpulangnya anaknya secara mendadak.

Foto AM, santri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo Jatim, semasa hidupnya, yang menjadi foto terakhir saat pulang ke Palembang Sumsel (Dok. Instagram @soimah_didi)

“Sungguh miris, tragis dan menyakitkan hati saya dan keluarga tidak ada kabar sakit atau apapun itu dari anak saya tiba-tiba dapat kabar dari pengasuhan Gontor 1 telah meninggal dunia pada Senin, 22 Agustus 2022 pukul 10.20. Padahal di surat keterangan yang kami terima, meninggal dunia pukul 06.45 WIB , ada apa? rentang waktu itu menjadi pertanyaan keluarga kami,” tulisnya dalam surat terbuka untuk Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim.

Jasad anaknya akhirnya dibawa pulang dengan didampingi perwakilan Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim, Ustad Agus. Di hadapan pelayat, perwakilan Ponpes Gontor 1 Ponorogo menjelaskan jika anaknya terjatuh karena kelelahan, saat mengikuti Perkemahan Kamis Jumat (Perkajum). Terlebih anaknya dipercaya sebagai Ketua Pelaksana (Ketupel) Perkajum Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim.

Awalnya Soimah sekeluarga menerima alasan kematian anaknya tersebut. Namun mereka mendengar kronologi kematian anaknya yang berbeda dari wali santri lainnya.

“Kami pihak keluarga meminta agar mayat dibuka. Sungguh sebagai ibu, saya tidak kuat melihat kondisi mayat anak saya demikian, begitu juga dengan keluarga. Amarah tak terbendung kenapa laporan yang disampaikan, berbeda dengan kenyataan yang diterima,” katanya.

Karena tidak sesuai, keluarga korban menghubungi pihak forensik dan rumah sakit yang sudah siap melakukan otopsi jasad Albar Mahdi. Namun setelah didesak, perwakilan dari Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim yang mengantar jenazah anaknya, mengakui bahwa Albar Mahdi meninggal dunia akibat terjadi kekerasan.

Dia pun meratapi penyesalannya, karena sudah menitipkan anaknya di ponpes yang terkenal mempunyai pendidikan Islam nomor satu di Indonesia. Setelah ada pengakuan telah terjadi tindak kekerasan di dalam pondok, keluarga korban memutuskan untuk tidak jadi melakukan otopsi.

“Hal itu dilakukan, agar anak saya segera bisa dikubur. Mengingat sudah lebih dari satu hari perjalanan dan saya tidak rela tubuh anak saya diobrak-abrik. Keputusan saya untuk tidak melanjutkan ke ranah hukum didasari banyak pertimbangan,” ujarnya.

Karena itu, Soimah membuat surat terbuka untuk Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim. Pihak keluarga ingin bertemu dengan kyai besar di ponpes tersebut, pelaku dan keluarga pelaku, untuk duduk satu meja dan menjelaskan kronologis sebenarnya hingga anaknya meninggal dunia.

Namun hingga surat terbuka tersebut dibuat Soimah di hari Rabu (31/8/2022), belum ada kabar atau balasan dari surat terbuka tersebut.

Dia tak ingin perjuangan anaknya menjadi sia-sia. Jangan lagi ada korban-korban kekerasan lainnya. Bukan hanya di Ponpes Gontor 1 Ponorogo Jatim, tetapi di pondok lainnya hingga menyebabkan nyawa santri melayang.

“Ini tidak sebanding dengan harapan para orang tua dan wali santri, untuk menitipkan anaknya di sebuah lembaga yang dapat mendidik akhlak para generasi berikutnya,” katanya.

“Semoga tulisan ini membuka mata masyarakat, memperjuangkan kebenaran dibutuhkan keberanian. Dari saya,Soimah wali santri Albar Mahdi bin Rusdi yang masih berharap ini hanya mimpi. Dan merasa anak saya belum pulang menimba ilmu,” ungkapnya.