Detak-Palembang.com PALEMBANG – Aparat kepolisian Polresta Palembang
Satreskrim Unit Pidana Umum (Pidum) akhirnya memanggil kepala sekolah SMA Taruna terkait kasus penganiayaan calon siswa hingga meninggal.

Kepala sekolah SMA Taruna Tarmizi berada di ruangan penyidik sejak pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.30 WIB hari ini Rabu, (24/7).

Statusnya masih sebagai saksi kunci agar penyidik bisa melengkapi berkas pekara terhadap adanya korban jiwa yang terjadi di SMA Taruna Indonesia tersebut. 

” Ya hari ini saya dipanggil oleh pihak penyidik satreskrim unit pidum dalam perkara melengkapi berkas penyidikan yang terjadi insiden di SMA Taruna Indonesia, saya diperiksa jam 10 adapun dalam pertanyaan penyidik seputar SOP di SMA Taruna Indonesia” tuturnya.

Saat ditanya berapa jumlah calon siswa dan siswi SMA Taruna yang mengikuti masa orientasi siswa atau MOS. Dia menjawab ada 105 yang dilakukan selama satu minggu. “MOS di SMA Taruna, Tarmizi sejak tahun 2005 sampai sekarang progam MOS tersebut berjalan. Dan mereka yang telah selesai MOS juga sudah mulai belajar,”tuturnya

Diakuinya pihak penyidik lebih banyak menekankan pertanyaan prosedur MOS apakah sesuai standar. Menurutnya sebagai pihak bertanggung jawab SMA Taruna mengadakan MOS sangat teliti melakukan rapat terlebi dahulu dengan yayasan dan kepanitian yang ahli didalam bidangnya.

“Jadi saya anggap apa yang dilakukan oleh pihak sekolah sudah sesui SOP”pungkasnya

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Palembang Kompol Yon Edi Winara membenarkan hari ini pihak penyidik Reskrim Pidana Umum memanggil Pihak Sekolah SMA Taruna Indonesia. 

” Benar pihak penyidik memangil pihak SMA Taruna Indonesia dalam rangka melengkapi berkas perkara terkait insident meninggalnya dua Siswa SMA Taruna Indonesia. Kedatangan pihak sekolah langsung dihadiri oleh kepalak sekolah Taruna”ucapnya

Terpisah Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Widodo mengatakan pihaknya bisa menghentikan izin operasional SMA Taruna jika terbukti ada kekerasan dan pelanggaran yang dilakukan secara terstruktur. Sejauh ini Widodo mengatakan pihaknya sudah membentu tik untuk menangani permasalahan tersebut.

Langkah ini dilakukan sebagai respons atas tewasnya siswa baru SMA Taruna Indonesia saat masa orientasi siswa (MOS).

“Mestinya secara reguler pihak sekolah memberi tahu kami jika ada kegiatan. Dan semestinya MOS itu hanya pengenalan jadi tidak boleh ada kontak fisik. Apalagi kegiatan yang dilakukan di luar pagar sekolah harusnya ada laporan ke kami biar bisa kami monitor,” ungkap Widodo.(molem)