Pembuat Miras dan Barang Bukti Miras

Detak-Palembang.com – Palembang – Sebanyak 7.000 botol minuman keras (miras) palsu jenis Vodka dan Mansion House disita polisi melalui serangkaian operasi yang dilakukan Ditreskrimsus Polda Sumsel. Tiga pengusaha ditetapkan menjadi tersangka.
“Jadi totalnya sudah ada tiga tersangka yang kita amankan. Perannya sama pembuat juga pengedar, tapi mereka tidak saling kenal,” ungkap Kasubdit Indagsi Ditreskrimsus Polda Sumsel, AKBP Hadi Syaeifudin, Jumat (11/11/2022).

Dari ketiga tersangka itu, kata Hadi, pihaknya telah menyita sekitar 7.000 lebih botol miras palsu jenis Vodka dan MH.

“Yang sudah kita sita per sekarang ini itu sudah lebih dari 7.000 botol lebih, dari tiga tersangka tersebut,” katanya.

Adapun yang ditangkap baru-baru ini, Suliyanto alias Yanto selaku pemilik dan penjual miras ilegal tersebut. Yanto, kata Hadi, ditangkap pihaknya pada Kamis (27/10) petang, di kawasan Tanjung Raja, Ogan Ilir, Sumsel.

“Ditangkapnya saat sedang di jalan, tersangka sedang mengemudikan mobil minibus membawa dan hendak menjual miras palsu tersebut sebanyak 30 dus atau 1.440 botol secara eceran ke para pedagang kaki lima,” terang Hadi.

Setelah diamankan dan dilakukan pengembangan, lanjutnya, pihaknya pun membongkar lokasi industri home milik Yanto yang beralamat di kawasan Talang Keramat, Talang Kelapa, Banyuasin.

“Di sana kita temukan lagi sejumlah peralatan produksi miras palsu dan juga 1.872 botol miras palsu jenis yang sama,” katanya.

Menurut Hadi, Yanto sudah melakukan kegiatan ilegal itu sejak 8 bulan lalu tepatnya pada Maret 2022. Dalam perbulan, lanjut dia, sekitar 100 dus atau 4.800 botol miras palsu sudah diproduksi tersangka dengan meraup keuntungan Rp 60 juta.

“Jadi selama delapan bulan itu sudah sekitar 4.800 botol vodka palsu dan 38.4000 botol Mansion House palsu diproduksi dan dijual tersangka, di mana dalam 1 dus berisi masing-masing 48 botol,” bebernya.

Dalam aksinya menjual dan mengelabui pedagang kaki lima, Yanto menjual kedua jenis miras palsu itu seharga Rp 375 ribu per dus ke beberapa daerah di Sumsel dan Bangka Belitung.

“Selama delapan bulan itu tersangka ini sudah meraup omzet Rp 300 juta atas penjualan ke pedagang kaki lima di kawasam Ogan Ilir, Muara Enim Musi Banyuasin dan Pagar Alam. Ada juga yang sudah bereda di Bangka,” terangnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dijerat pasal berlapis yakni Undang-Undang Perlindungan Konsumen dan Undang-Undang Tentang Izin Perdagangan, dngan ancaman hukuman 5 tahun penjara atau pidana denda Rp 2 miliar.

Sebelum Yanto, polisi juga telah mengungkap kasus serupa dengan mengamankan dua orang tersangka dengan modus dan motid yang sama, yakni Hadiwijoyo alias Awei (36) dan seorang Direktur PT PSP diamankan berikut barang buktinya. Keduanya juga sudah ditahan di Direktorat Tahti Polda Sumsel.