Saat ini publik tengah dikejutkan dengan berita seorang ibu yang tega membunuh anak kandungnya karena tak ingin melihat anaknya hidup susah seperti yang ia alami. Di balik perbuatan keji tersebut, banyak orang menganggap bahwa pembunuhan adalah bentuk perilaku yang tidak bisa dimaafkan.

Padahal setiap orang memiliki latar belakang kehidupan yang beragam, sehingga hal ini menjadi salah satu faktor pembentukan pribadi manusia di masa depan, Jika menilik dari sisi psikologis, seseorang yang memiliki trauma berat dimasa lalu akan menyebabkan dampak yang beragam seperti depresi, kesedihan yang berlarut-larut, atau rasa putus asa.

Perasaan tersebut muncul sebagai akibat dari pengalaman buruk yang terjadi secara beruntun dengan sedikitnya pengalaman baik yang dialami. Sehingga hal ini akan membuat empati seseorang berkurang, dan dapat membahayakan dari segi emosional, beberapa faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan pembunuhan adalah orang tersebut memiliki masalah mental dan ketidakmampuan untuk mengontrol emosi dengan baik.

Oleh sebab itu, kita sebagai makhluk sosial perlu menumbuhkan sikap saling peduli terhadap sesama agar nantinya tidak menjadi bom waktu, sehingga tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kasus pembunuhan ini.

Dalam kondisi inilah, peran agama sangat terasa membantu dalam menentramkan kejiwaannya. Dengan landasan agama, wudlu akan menyirami kepenatannya, shalat akan meredam emosinya, alunan ayat-ayat al-Qur’an akan membendung amarahnya. Keihlasan menjadi acuan tingkah-lakunya, dan sabar menjadi pegangan dalam menghadapi problem dan permasalahannya. Sungguh terasa amat sejuk, damai, dan nyaman setelah mengenal dengan mendalam mukjizat ajaran Islam. Terlihat agama mampu meredam gejolak problem kejiwaan dan berperan sebagai sarana untuk mengatasi frustasi yang dialami seseorang.

Munculnya konflik, stres, depresi dan ketidak bahagiaan adalah karena adanya keresahan, kegelisahan dan ketidak tenangan dalam hati. Bila hati sedang sakit maka tindak dan perilaku manusia akan menyimpang (abnormal) atau mental menjadi tidak sehat karena hati merupakan pangkal dari segala perbuatan, dalam konteks ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw yang berbunyi:

أَلآ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلآ وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah, sungguh di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Jika daging tersebut baik, baiklah seluruh tubuh. Jika rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah kalbu (jantung).” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Ust. Imam Irfa’i, S.Kom.I

Penyuluh Agama Islam KUA Babat Toman Kemenag Muba 

Sekretaris Umum Mawacab NU Babat Toman