Detak-Palembang.com – MUSI RAWAS – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mura menargetkan untuk angka stunting di tahun 2023 hingga 2024 mendatang dapat teratasi dengan baik,hingga diharapkan dapat menurun dari tahun-tahun sebelumnya.

Maka dari itu Pemkab Mura mengelar Rapat Koordinasi (Rakor) penurunan angka stunting,yang dipimpin langsung oleh Ketua Tim Penggerak Persatuan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) H Riza Novianto Gustam.

Dan didampingi Pelaksanaa Harian (Plh) Sekretaris Daerah (Setda) Mura Ir H Aidil Rusman,serta turut hadir kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN),Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) hingga OPD terkait lainnya.

Plh Setda Kabupaten Mura Ir H Aidil Rusman (25/9) menyampaikan bahwa stunting ini masih menjadi permasalahan kesehatan yang dihadapi anak-anak di Indonesia khususnya Kabupaten Mura.

Pasalnya,prevalensi stunting di Indonesia menurut hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021 hingga 2022, Kabupaten Mura sebesar 28 persen angka kasus stuntingnya.

” Dengan angka tersebut sudah melebihi ketentuan yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni di bawah 20 persen sedangkan targetnya harus 14 persen penurunan terhadap angka stunting,”kata Plh Setda.

Oleh karena itu, Pemkab Mura menunjuk BKKBN sebagai ketua pelaksana percepatan penurunan angka stunting,dengan dibantu seluruh instansi pemerintahan yang terkait lainnya.

BKKBN pun harus memastikan intervensi yang dilakukan tepat sasaran, untuk menurunkan prevalensi stunting menjadi 14 persen di tahun 2023 hingga 2024 mendatang.

” Kalau Provinsi Sumsel 20 persen minimal Kabupaten Mura bisah mendekati 20 persen,untuk itu semua instansi pemerintahan harus turut serta dalam kegiatan penurunan angka stunting ini,”ungkapnya.

Lanjutnya lagi,Pemkab Mura berkomitmen untuk memberikan pelayanan yang terbaik dalam penurunan angka stunting bagi anak-anak usia dini di Kabupaten Mura.

Mulai meningkatan pembentukan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), yang sudah ada di 186 Desa dari 14 Kecamatan dan 13 Kelurahan se Kabupaten Mura.

” Hingga peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif dengan peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat,”pungkasnya.(Zul)