Muddai Madang saat menjalankan sidang virtual

Detak-Palembang.com – Muddai Madang terdakwa dugaan kasus korupsi Masjid Sriwijaya dan juga terdakwa dugaan korupsi PDPDE Sumsel serta TPPU, Rabu (25/5/2022) dituntut Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejagung dan Kejati Sumsel dengan pidana 20 tahun penjara.

Selain itu, Muddai Madang juga terancam pidana tambahan 9 tahun penjara apabila tidak melunasi semua uang pengganti kerugian negara yang dituntutkan oleh JPU kepadanya.

Dikatakan JPU, dalam perkara Masjid Sriwijaya Muddai Madang merupakan mantan Bendahara Yayasan Wakaf Masjid Sriwijaya Palembang, dan pada perkara dugaan korupsi pembelian gas bumi oleh BUMD Perusahaan Daerah Pertambangan dan Energi (PDPDE) Sumsel tahun 2010-2019 Muddai selaku Direktur PT Dika Karya Lintas Nusa (DKLN).

Masih kata JPU, untuk di perkara Masjid Sriwijaya dan PDPDE Sumsel terdakwa Muddai Madang terbukti melanggar Pasal 2 ayat 1 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Kemudian untuk di perkara TPPU
Muddai Madang melanggar Pasal 3 UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU).

“Dengan ini menutut Muddai Madang dengan hukuman pidana 20 tahun penjara, denda Rp 10 miliar subsider 1 tahun kurungan,” tegas JPU.

Lanjut JPU, terdakwa Muddai Madang juga dituntut uang pengganti kerugian
negara, yakni Rp 2,1 miliar dan 17 juta dolar Amerika untuk perkara PDPDE Sumsel.

“Apabila satu bulan usai vonis incrah uang pengganti tersebut tidak dibayar maka aset harta benda milik terdakwa akan disita, dan jika harta benda terdakwa yang disita tidak menutupi uang pengganti kerugian negara maka diganti pidana 9 tahun penjara,” tandasnya.

Sementara Muddai Madang mengatakan, jika dirinya dan penasihat hukum akan mengajukan pembelaan terkait tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum.

“Kami akan mengajukan pembelaan. Dan dalam sidang ini saya mengucapkan terimakasih kepada Hakim yang menyidangkan perkara ini hingga malam hari sehingga memakan banyak energi. Terimakasih dan salam hormat untuk JPU Kejagung yang dengan semangat membacakan tuntutan di persidangan,” ujar terdakwa Muddai Madang.

Ketua Majelis Hakim Yoserizal SH MH menutup persidangan dan akan kembali membuka sidang pada 2 Juni 2022 mendatang.

“Sidang kami tutup, dan akan kami buka kembali pada Kamis 2 Juni 2022 mendatang dangan agenda pembelaan,” tandas Hakim.