Alex Noerdin saat hadiri sidang (IST)

Detak-Palembang.com – Akhirnya mantan Gubernur Sumsel Alex Noerdin menghadiri sidang secara offline kasus dugaan korupsi gas bumi pada perusahaan PDPDE di Pengadilan Negeri Palembang, Selasa (17/5/22).

Alex terlihat hadir bersama terdakwa lainya, yakni Mudai Madang, Akhmad Yaniarsyah dan Caca Ica Saleh masuk ruang sidang persis pukul 11.20 WIB

Alex memberikan keterangan terlebih dahulu sebagai saksi untuk Mudai Madang. Alex yang kini berusia 71 tahun mengaku sudah tiga kali memberikan keterangan untuk kelengkapan BAP. Dia mengurai sudah mengajukan izin permohonan alokasi gas negara untuk Sumsel pada 13 Oktober 2009, lalu ke BPMigas.

Gas tersebut nantinya akan dikelola oleh perusahaan PDPDE, BUMD Sumsel untuk sumber kelistrikan TAA yang kala itu tak mampu disuplai oleh PLN. PLN hanya mampu mengcover 70 persen kelistrikan untuk Sumsel, kala itu.

“Karena pasokan energi kurang maka PLN hanya bisa mengcover 70 persen, makanya kami mencari jalan untuk pemanfaatan gas sebagai sumber energi listrik untuk TAA, “kata Alex.

Namun berjalannya waktu, ternyata proyek TAA belum berjalan sehingga Alex mengalihkan penggunaan gas tersebut untuk energi listrik diubah peruntukkan ke industri. Ditambah fakta, banyaknya sumur tua yang terbengkalai.Bahkan di Muba hampir 300an dan Muara Enim.

Pengajuan perubahan itu, kata Alex, sudah diajukan kepada BPMigas pada 21 Januari 2010, lalu.

Pengalihan sumber migas yang merupakan hasil kekayaan minerba milik negara, oleh Alex Cs peruntukkan dialirkan untuk energi pada pabrik kertas atau industri pulpy di Jambi. Alex mengaku tidak tahu, apakah dari BPMigas ada pengkajian terlebih dahulu usai permohonan perubahan peruntukkan penggunaan gas tersebut diajukan.

Tapi sebelumnya, kata Alex, pada 13 Oktober 2009 di grand hyat Jakarta, dia bersama Robert Heri dan Caca Ica Saleh melakukan pertemuan untuk membahas hal tersebut, termasuk pernah memanggil alm Bactiar Amin yang pernah melakukan penelitian tentang sumur tua di Muba.

Pada pertemuan di hotel Grand Hyat, Alex berkali-kali menyebut tidak membahas soal migas namun lebih kepada pengelolaan sumur tua yang dia ingin bisa dikelola oleh PT DKLN, perusahaan yang direktur utamanya adalah Mudai Madang.

Dia juga meyakinkan Hakim dan Jaksa, bahwa pengelolaan gas negara akan diserahkan kepada PDPDE selaku BUMD Sumsel dalam surat perubahan yang diajukan ke BPmigas.

Alex juga memaparkan untuk fee atau bagi hasil sudah disepakati 15 persen untuk PDPDE dan 85 persen untuk PT DKLN.