Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir

Jakarta, Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam mengatakan mendukung langkah Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir yang telah melakukan terobosan dalam membangun infrastruktur jalan tol dengan skema pembiayaan investasi melalui Indonesia Investment Authority (INA) dari pada menggunakan dana hutang.

Dua BUMN Karya yaitu Hutama Karya dan Waskita Karya mendapatkan investasi dari INA untuk percepatan pembangunan tiga ruas Jalan Tol Trans (JTT) Sumatra milik Hutama Karya dan 2 ruas JTT Jawa milik Waskita Karya senilai Rp 39 triliun.

“Iya sudah pasti lebih baik, karena kalau INA tanda kutip keluarga sendiri, jadi ketimbang Hutama Karya maupun Waskita itu melakukan hutang, karena ini kan bentuknya investasi dari INA. Jadi dari sisi posisi di balanshet pun lebih baik kan, karena kalau di hutang otomatis akan jadi beban di dalam neracanya atau di dalam laporan keuangannya, Hutama Karya maupun Waskita.” Ujar Piter, Selasa (19/4/2022).

“Sementara kalau dia melalui investasi INA itu kan bukan menjadi hutang, saya kira tidak menjadi beban gitu lho yang tidak merusak struktur keuangannya Hutama Karya dan Waskita Karya yang sekarang ini kita sudah tahu terbebani oleh hutang.” Imbuhnya.

Piter Abdullah Redjalam

Menurut Piter pembangunan infrastruktur idealnya memang menggunakan dana investasi dan tidak menggunakan pinjaman, namun kapasitas dana yang dimiliki INA belum tentu bisa membiayai semua infrastruktur.

“Kalau bisa semuanya seperti itu, tapi kan gak mungkin juga INA kan, gak mungkin kapasitasnya sebesar itu, jadi di dalam praktiknya nanti pasti ada mix ya, ada utang ada investasi seperti dari INA tapi itu tidak bisa semuanya seperti itu. terlalu perfect terlalu sempurna kalau semua pembangunan infrastruktur dari INA, itu imposible karena dana dari INA pasti terbatas,” jelasnya.

Lanjut Piter menyarankan dengan adannya dana investasi dari INA, Hutama Karya yang menggarap ruas Jalan Tol Trans Sumatera, mencakup ruas-ruas Tol Bakauheni-Terbanggi Besar, Tol Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung, dan Tol Medan-Binjai.

Lalu PT Waskita Toll Road untuk sejumlah ruas Jalan Tol Trans Jawa mencakup ruas-ruas Tol Kanci-Pejagan dan Tol Pejagan-Pemalang untuk menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu.

“Kalau jalan tolnya dibangun saja diselesaikan tepat waktu, utamanya kan kalau terkait jalan tol bagaimana sekarang ini dampak dari jalan tol itu kan belum maksimal, yang perlu dimaksimalkan dari jalan tol ini adalah bagaimana pembangunan jalan tol ini sejak awal sudah menggandeng industri, jadi perencanaan industrinya sudah dimasukkan di dalam perencanaan pembangunan jalan tol itu,” ungkapnya.

Lebih lanjut Piter menjelaskan, saat ini jalan tol yang dibangun di wilayah Sumatera baru sebatas untuk kebutuhan transportasi, dan pariwisata belum menyentuh sektor industri.

Oleh karenanya Piter mendorong agar pembangunan jalan tol perlu terintegrasi juga dengan Kawasan industri terpadu untuk menumbuhkan ekonomi dan tenaga kerja.

“Agar supaya ini manfaatnya jadi lebih maksimal kalau sekarang ini kan masih terbatas di transportasi, belum mendorong pembangunan industri Itu yang perlu dipacu, sekarang ini misalnya tol Sumatera belum terbangun kan industrinya direncanakan sejak awal sebelum jalan tol itu dibangun tempatnya, sehingga jalan tol itu waktu dibangun sudah berbarengan dengan Kawasan industrinya juga,” tutupnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Gerindra Rudi Hartono Bangun memastikan langkah yang dilakukan oleh Kementerian BUMN lewat dua perusahaan Waskita Karya dan Hutama Karya sangat bagus, karena pembangunan proyek-proyek besar di bangsa ini baiknya lewat investasi. “Lebi bagus sih skema investasi menurut saya,” kata Hartono Bangun singkat.

Anak buah Prabowo Subianto ini juga memastikan pembangunan infrastruktur lewat investasi tidak membebani negara, terlebih tidak membuat Pemerintah harus hutang ke negara lain. “Tidak bebani negara dan gak namba utang,” jelasnya.

Sebelumnya Erick Thohir mengatakan Indonesia bisa mengubah anggapan dalam pembangunan infrastruktur selalu dibiayai oleh utang, melainkan dengan investasi.

“Selama ini banyak pihak ribut utang-utang yang dibangun untuk infrastruktur, ini jawabannya, sekarang kami sudah membangun infrastruktur dengan investasi,” ujar Erick.

Menurut Erick, banyak negara-negara seperti UEA, Amerika Serikat, hingga Uni Eropa berkomitmen investasi untuk membangun infrastruktur di dalam negeri.

“Karena apa? Melihat potensi tadi bahwa memang infrastruktur di Indonesia harus dibangun. Dan ini sekarang investasi dengan pembangunan Infrastruktur dengan modal, tidak lagi dengan hutang. Kita balance utang kita,” ucapnya. (***)