Ilustrasi penjara (IST)

Detak-Palembang.com, PALEMBANG – Tingginya kriminalitas di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel), membuat banyak pelaku kriminal mendekam di balik jeruji besi.

Sayangnya, jumlah narapidana tersebut tidak sebanding dengan kapasitas penjara yang disiapkan pemerintah.

Bahkan hampir 100 persen dari seluruh penjara di Sumsel, mengalami over capacity.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bagian Hubungan Masyarakat, Reformasi Birokrasi, dan Teknologi Informasi Kanwil Kemenkumham Sumsel Hamsir.

Dia mengatakan, kondisi dari 20 unit Lembaga Permasyarakatan (Lapas) dan Rumah Tahanan (Rutan) yang ada di Sumsel, hampir 200 persen telah over kapasitas.

Dari 6.605 orang daya tampung di 20 rutan dan lapas, keterisian napi bisa mencapai 15.110 orang.

“Hampir semuanya over kapasitas, bahkan ada yang mencapai 200 persen lebih, kecuali Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Palembang dari daya tampung 500 orang hanya terisi 123 orang, sisanya semua melebihi daya tampung,” ungkapnya.

Pihaknya tidak bisa membatasi masuknya penghuni baru, baik di lapas ataupun di rutan.

Tingkat kriminal yang tinggi, lanjutnya, menjadikan penyidik selalu mengirimkan penghuni baru, meskipun kapasitas telah overload.

“Kalau tidak ditampung, mau di mana lagi. Pihak kepolisian pun tidak ada tempat,” katanya.

Untuk mengatasi over capacity tersebut, pihaknya selalu memindahkan penghuni ke penjara di kabupaten/kota di Sumsel, agar tidak terjadi kepadatan.

“Biasanya kalau di Palembang penuh, kita pindahkan ke daerah lain. gar bisa mengurangi keterisian di satu Lapas atau rutan mencapai 200 persen,” ujar ya.

Mereka juga selalu mengusulkan penambahan blok hunian. Namun hingga saat ini, belum ada reaslisasi yang terjadi.

“Bahkan ada pemerintah daerah yang telah menghibahkan tanah, untuk membangun lapas baru Tapi kita tidak memiliki kemampuan untuk membangun. Kita tidak punya dana untuk bangunanya, mau buat bloknya saja belum bisa apalagi buat bangunan,” ungkapnya.

“Untuk membantu over capacity ini, jangan hanya memberi tanah, bangunkan sekalian bangunanya,” katanya.

Ini Rincian Keterisian dan Kapasitas 20 Lapas dan Rutan di Sumsel:

  1. Lapas Kelas 1 Palembang (Mata Merah) Terisi 1572 dengan Kapasitas 540 (191 persen dari keterisian)
  2. Lapas Kelas 2 A Banyuasin, Terisi 1459 dengan kapasitas 485, (201 persen)
  3. Lapas Kelas 2 A Lahat, Terisi 427, Kapasitas 261, (64 persen)
  4. Lapas Kelas 2 A Lubuk Linggau, Terisi 1132, Kapasitas 606 (87 persen)
  5. Lapas Kelas 2 A Tanjung Raja, Terisi 937, kapasitas 402 (133 persen)
  6. Lapas Kelas 2 B Empat Lawang, Terisi 249, Kapasitas 93 (168 persen)
  7. Lapas Kelas 2 B Kayu Agung, Terisi 1106, Kapasitas 350 (216 persen)
  8. Lapas Kelas 2 B Martapura, Terisi 490, Kapasitas 188 (161 persen)
  9. Lapas Kelas 2 B Martapura, Terisi 270, Kapasitas 120 (125 persen)
  10. Lapas Kelas 2 B Muara Enim, Terisi 1106, Kapasitas 486 (126 persen)
  11. Lapas Kelas 2 B Sekayu, Terisi 1101, Kapasitas 300 (267 persen)
  12. Lapas Kelas 3 Pagaralam, Terisi 208, Kapasitas 80 (160 persen)
  13. Lapas Kelas 3 Sarolangun Rawas, Terisi 287, Kapasitas 200 (44 persen)
  14. Lapas Narkotika Kelas 2 A Muara Beliti, Terisi 699, Kapasitas 289 (142 persen)
  15. Lapas Narkotika Kelas 2 B Banyuasin, Terisi 1129, Kapasitas 484 (133 persen)
  16. Lapas Perempuan Kelas 2 A Palembang, Terisi 557, Kapasitas 151 (269 persen)
  17. Lembaga Pembinaan Khusus Anak Kelas 1 Palembang, Terisi 123, Kapasitas 500 (0 persen)
  18. Rutan Kelas 1 Palembang, Terisi 1370, kapasitas 750 (83 persen)
  19. Rutan Kelas 2 B Baturaja, Terisi 408, Kapasitas 170 (140 persen)
  20. Rutan Kelas II B Prabumulih, Terisi 480, Kapasitas 150 (220 persen)