Pantai Mutun di Lampung

Detak-Palembang.com PALEMBANG – Liburan itu tentunya harus bisa menenangkan pikiran dan membuat hati damai. Artinya liburan itu tidak harus pergi ke pusat kota yang hingar-bingar.

Nah di Lampung ada sebuah pulau bernama Mahitam salah satu rekomendasi berwisata menarik. Berada di Gebang, Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran Lampung, pulau tersebut menawarkan keindahan pantai yang masih alami.

Bahkan daya tarik pulau mampu menyedot wisatawan dari luar Lampung. Bagaimana tidak dengan suasana asri dan air laut yang bening mampu membuat jiwa tenang.

Salah satu pasilitas permainan di pantai pulau mahitam

Terlebih lagi setiap orang kadang memiliki kecenderungan ingin tinggal di sebuah pulau. Dengan alasan tanpa harus memikirkan kehidupan penat di Kota besar. Disinilah suasana itu menjadi magnet besar wisatawan akhirnya menetapkan pilihan liburan ke pulau ini.

Namun untuk sampai ke pulau terlebih dahulu menyebrang dari bibir pantai Mutun agar bisa sampai ke pulau mahitam dengan waktu tempuh lbh kurang satu jam menggunakan perahu bermesin , yang ditawarkan masyarakat sekitar pantai . Ongkosnya pun sangat mahal pulang pergi dibanderol Rp 700.000.

Pantai mahitam Lampung

Namun untuk menghemat pengeluaran, seharusnya mengajak orang lain karena kapasitas perahu untuk 8 orang.

Salah satu pengunjung Syafrizal Fuady asal Jakarta tidak berhenti-henti memuji keindahan pulau ini. Bahkan saat sampai dari perahu dia sangat menikmati panorama asli pulau dengan perpohonan kelapanya . Sebagai keindahan panorama laut pulau mahitam ini (sabtu , 26/6/2021)

“Tidak salah mengajak libur keluarga kesini. Pulaunya sangat indah sekali dan suasananya tenang,”katanya.

Perahu jukung

Namun sangat disayangi ada beberapa salah satu pengunjung winandar (ower detakpalembang.com ) juga menyesalkan banyaknya sampah. Terlebih lagi sampah plastik yang tidak bias terurai itu banyak terlihat mengambang di sepanjang perjalanan antara pantai mutun ke pulau mahitam .

Hal itu tentunya menjadi sedikit sisi pembelajaran bagi pengunjung. Berdasarkan logika kemungkinan sampah merupakan hasil rumah tangga dan kunjungan wisatawan sebelumnya. Setelah menikmati pasir pantai dan meninggal tanpa dibuang atau dibawah serta kembali ke luar pulau.

Ataupun objek wisata ini memang tidak dikontrol oleh pemerintah setempat tanpa adanya pengelolaan yang baik khususnya soal kebersihan