Detak-Palembang.com – PALEMBANG |Dengan cara aktif mendatangi ke rumah-rumah warga sebagai upaya menjemput bola, Dinas Kesehatan Kota Palembang terus mengoptimalkan pencegahan kasus stunting. Selain itu warga tidak dapat pergi ke posyandu dikarenakan pos pelayanan terpadu (Posyandu) di tutup selama masa pandemi Covid-19. 

Dinas Kesehatan (Dinkes) kota Palembang pada tahun ini menargetkan kasus stunting di Palembang turun di angka 12,5 persen.

Plt Kepala Dinkes Kota Palembang Fauziah mengatakan kader-kader posyandu mengunjungi kediaman warga untuk menimbang berat badan bayi dan ibu hamil, serta menjalankan program gizi rumah.

“Jika berat bayi dan ibu hamil dalam dua kali penimbangan tidak sesuai maka segera diintervensi,” ujarnya, Jumat (28/5/2021). 

Dia menjelaskan proses jemput bola sudah berjalan sejak Covid-19 merebak pada April 2020 karena posyandu di wilayah sebaran tinggi Covid-19 saat itu ditutup untuk pelayanan.

Namun, saat ini sebagian posyandu yang masih memungkinkan menampung banyak warga atau bisa menjaga jarak telah dibuka kembali, sedangkan sebagian pelayanan lainnya dipindahkan ke puskesmas terdekat.

“Dari target 12,5 persen tersebut, hingga sekarang kita sudah berhasil menurunkan angka stunting sebesar 3,3 persen,” ungkap Plt Kepala Dinas Kesehatan kota Palembang, dr. Fauzia disela-sela Rembuk Stunting 30 Kelurahan Lokasi Fokus Stunting Tahun 2021, Komplek RM Sri Melayu, Kamis (27/05).

Fauziah mengungkapkan jemput bola itu harus dilaksanakan karena pihaknya menargetkan prevalansi kasus kekerdilan di Palembang tidak lebih dari 13 persen, karena pada 2020 sebenarnya Palembang sudah mampu menekan prevalansi hingga 7,5 persen atau jauh di bawah nasional. 

Namun, prevelansi berpotensi meningkat jika program intervensi tidak berjalan dengan baik, sehingga Dinkes Palembang juga menambah lokasi khusus intervensi dari 10 kelurahan pada 2020 menjadi 30 kelurahan pada 2021.

“Ada dua prioritas intervensi yang kami jalankan, pertama yang sifatnya spesifik dan kedua yang sifatnya sensitif,” kata dia. 

Intervensi spesifik dilaksanakan dari sisi kesehatan mulai dari pemantauan kondisi ibu hamil dan remaja puteri, sedangkan intervensi sensitif dilaksanakan dengan menggandeng berbagai pihak terkait pengawasan perilaku hingga keterpenuhan akses sanitasi. 

“Kekerdilan tidak muncul tiba-tiba, tapi muncul dalam jangka waktu panjang dan bisa diketahui dari sejak bayi,” kata Fauziah.

Fauzia mengungkapkan, berbagai upaya telah pihaknya lakukan dalam menekan tingginya angka stunting di Palembang antara lain melakukan upaya yang bersifat spesifik dan sensitif.

“Jadi ada dua upaya yang kita prioritaskan dalam menurunkan angka stunting yakni upaya bersifat spesifik dan sensitif. Untuk spesifik, kita berupaya mencegah terjadinya kasus anemia pada remaja dan rutin melakukan pemeriksaan kehamilan. Sedangkan pada sensitif, kita melakukan edukasi perilaku hidup sehat dan pola asuh, upaya ini kita lakukan dengan melibatkan banyak sektor,” katanya.