Simulasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumsel (Detak-Palembang.com)

Detak-Palembang.com, PALEMBANG – Musim kemarau membuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Kepala Stasiun meteorologi Bandara SMB II Palembang, Desindra mengungkapkan, secara umum puncak musim kemarau di Sumsel terjadi pada rentang Agustus hingga September.

“Bulan Mei awal musim kemarau, di bulan Juni 2021 puncaknya. Namun ada beberapa wilayah akhir Mei sudah masuk kemarau,” katanya usai Apel Gelar Personel dan Alutsista Latihan Kesiapsiagaan Operasional Kodam II/Swj dan Koops AU I TA 2021 di Apron Baseops Lanud SMH Palembang, Rabu (14/4/2021).

Menurut Desindra, musim kemarau mulai terjadi di saat curah hujan sudah di bawah 50 milimeter (mm) per dasarian. Kondisi tersebut diikuti pula dengan dua dasarian selanjutnya.

“Normalnya, Mei Dasarian tiga sampai Juni dasarian dua. Biasanya memang sebagian awal Juni sudah ada yang masuk musim kemarau pertengahan Juni. Total tiga dasarian 150 mm,” ucapnya.

Dia mengatakan, curah hujan di bawah 50 mm tersebut dinilai bermanfaat untuk mengurangi pemadamam titik api. Apalagi nantinya, di awal musim kemarau akan dilakukan TMC.

“Semai dengan garam agar proses hujan lebih cepat terjadi dan bisa lebih cepat membantu pemadaman kebakaran,” ungkapnya.

Desindra menuturkan, sepanjang Agustus – September perlu diwaspadai oleh berbagai pihak. Karena pada waktu tersebut, diprediksi akan terjadi peningkatan titik api atau hotspot.