Rapat evaluasi PSBB jilid II Gugus Tugas COVID-19 di rumah dinas Wali Kita Jalan Tasik Jumat,(5/6).

Detak-Palembang.com PALEMBANG – Setelah berjalan tiga hari sejak 3 Juni penerapan PSBB jilid II Kota Palembang berubah konsep dengan terfokus kepada pusat keramaian.

Hal itu berdasarkan hasil rapat evaluasi Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ke II di gelar oleh Tim Gugus Tugas COVID-19 Kota Palembang di rumah dinas Wali Kita Jalan Tasik Jumat,(5/6).

Wali Kota Palembang Harnojoyo menyampaikan PSBB jilid II telah berjalan pada tanggal 3 Juni hingga batas inkubasi sampai tanggal 6 Juni 2020. Disebutnya pihaknya hari ini sengaja menggelar rapat untuk membahas penerapan pembatasan pada PSBB jilid II bagi warga Palembang.

“Untuk PSBB II kita akan memfokuskan kepada pusat keramaian. Hal itu berdasarkan hasil rapat yang kita laksanakan tadi,”ucapnya Jumat,(5/6)

Menurut orang nomor satu di Kota Palembang ini, dari hasil evaluasi PSBB I warga Palembang telah patuh menuruti protokol kesehatan di check point. Bahkan Harnojoyo menyebutnya persentase 99,7 % hampir sudah warga sudah patuh.

“Sedangkan kita lihat di tempat lain seperti di pusat keramaian masih banyak yang tidak mengindahkan protokol kesehatan. Kalau di PSBB I selama check point semua sudah patuh banyak menggunakan masker dan sebagainya,”paparnya

Selanjutnya dia menyebutkan 13 titik check point akan di kurangi. Bahkan 1750 personil yang biasa menggelar check point semua akan di fokuskan kepada daerah pusat keramaian seperti pasar, mall dan wilayah perbatasan di Kota Palembang.

“Pusat itu check point untuk memberikan edukasi kepada masyarakat secara humanis bertapa penting protokol kesehatan. Nah pola check point akan di ubah sifatnya mobile kami pusatkan di daerah keramaian dan daerah perbatasan kota Palembang,”tuturnya

Sementara itu berdasarkan laporan dan pantauan di lapangan selama pelaksanaan PSBB seperti memang tepat. Lantaran pola Kota Palembang menerapkan PSBB lebih kepada pembatas bukan larangan. Karena Palembang hanya menerapkan pembatasan jam bukan menutup akses aktifitas masyarakat di berbagai sektor. Nah dengan penerapan check point secara mobile lebih efektif untuk mengontrol penerapan protokol kesehatan agar mata rantai penyebaran COVID-19 bisa berjalan maksimal.