Detak-Palembang.com MUARADUA – Bandara Banding Agung Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan ternyata masih terregistrasi dengan kode WIPD pada ICAO (International Civil Aviation Organization) atau organisasi penerbangan sipil internasional yang bermarkas di kota Montreal Canada.

Bandara yang dibangun dan dioperasikan pada awal tahun 90 an saat kepemimpinan Gubernur Sumatera Selatan Ramli Hasan Basri itu saat ini kondisinya sungguh memprihatinkan, seperti pantauan detak-palembang.com beberapa waktu yang lalu.

Landasan pacu sepanjang sekitar 900 meter ini pada kanan dan kirinya ditumbuhi semak dan rumput lebat bahkan ada bagian tanahnya yang terbelah membentuk jurang kecil diduga karena pergerakan tanah.

Bangunan terminalnya lebih parah lagi, selain sudah hancur dibeberapa tempat dan dikelilingi semak yang lebat, nampak pula bekas tangan-tangan jahil yang telah melakukan aksi vandalisme.

Saat dikonfirmasi mengenai keadaan itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten OKU Selatan Amroelian Thoni kepada wartawan di ruang kerjanya mengaku sudah melihat kondisi bandara itu, Selasa (16/01) siang.

Bahkan ungkap Thoni Bandara Banding Agung itu tercatat dalam AIP (Aeronautical Infomation Publication) atau buku yang dipublikasikan dibawah kewenangan pemerintah yang berisi informasi aktual yang diperlukan bagi navigasi penerbangan, namun belum pernah ada update.

Kondisi bandara tersebut yang saat ini terbegkalai dikarenakan bandara itu sudah tidak beroperasi lagi.

Bandara yang dibangun dan menjadi aset Pemprov Sumsel itu kemudian dihibahkan kepada Pemkab OKU yang selanjutnya dihibahkan lagi ke Pemkab OKU Selatan yang merupakan kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten OKU.

Namun saat ini kata pria lulusan IPDN itu, bandara dengan luas tanah 58 ha ini sudah akan kembali direvitalisasi agar dapat beroperasi lagi untuk melayani penerbangan komersial.

Rencana revitalisasi tersebut bukan tanpa alasan, selain sebagai pendukung tarnsportasi udara, juga akan menunjang sektor pariwisata di Kabupaten OKU Selatan khususnya Danau Ranau.

Saat ini pihaknya sedang melengkapi dokumen-dokumen perencanaan yang secara bertahap telah disiapkan.

Dokumen tersebut tentunya sesuai dengan prosedur, syarat, ketentuan dan aturan tentang kebandar udaraan atau penerbangan yang berlaku.

“Kita (Pemkab OKU Selatan) sebagai sebagai pemrakarsa wajib memenuhi syarat-syarat tersebut” cetusnya.

Adapun proses tahapan perencanaan yang harus dipenuhi meliputi lima variabel yaitu studi kelayakan, rencana induk, KKOP (Kawasan Keselamatan Operasi Penerbangan), rencana teknik terinci sisi udara dan teknik terinci sisi darat, terakhir adalah Amdal.

“Kita tidak bisa menargetkan satu tahun atau dua tahun, saat ini kami sedang melengkapi dokumen yang dibutuhkan, meskipun sudah ada beberapa dokumen yang sudah lengkap” ujarnya tidak berani menjanjikan.

Tahapan-tahapan dan dokumen pendukung sedang diupayakan untuk dilengkapi, dia berharap mudah-mudahan mendapatkan suport dari kementerian perhubungan, sehingga bandara itu akan dapat segera beroperasi kembali.

“Kami juga mohon doa dan dukungan dari semua pihak dan masyarakat agar bandara Banding Agung bisa segera direvitalisasi dan dapat beroperasi kembali,” ujar kadishub berharap.