Detak-Palembang.com PALEMBANG – Peringatan hari buruh internasional atau Mayday yang jatuh setiap tanggal 1 Mei, kini lebih dari sekadar momen penyampaian aspirasi para pekerja saja. Lebih dari itu, Mayday menjadi ajang pertunjukkan kreatifitas dari para pekerja.

Aksi tak lagi sebatas orasi. Lebih dari itu, ada teatrikal, poster unik, hingga band dadakan di gelanggang massa kaum proletar.

Hari Buruh atau May Day menjadi momen mengeluarkan opini dan harapan bagi para buruh, seperti yang ramai disuarakan hari ini.

Mulai dari Presiden RI Joko Widodo, sejumlah Menteri, tokoh politik, public figure dan netizen terutama kalangan pekerja, saling mengucapkan Selamat Hari Buruh dan harapan mereka.

@jokowi : Selamat Hari Buruh Internasional, May Day (1 Mei 2018). Bersatu kita bangun Indonesia -Jkw

@prabowo : Selamat hari buruh. Semoga perjuangan buruh untuk kepastian masa depan buruh dan keluarganya terwujud. #MayDay

@hanifdhakiri : MAYDAY. Selamat Hari Buruh Internasional 1 Mei 2018. Mari rayakan #mayday dg penuh sukacita,…

@cakimiNOW : Selamat Hari Buruh Internasional 2018, #MayDay kita jadikan hari libur nasional sebagai penghargaan, rasa hormat dan cinta kita pada para pejuang buruh. Ayo wujudkan kesejahteraan buruh kita. Bekerja sesuai kemampuan, mendapatkan hak sesuai kebutuhan.

Tuntutan Buruh Sumsel

Tuntutan para buruh di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam aksi Hari Buruh Internasional yang dilakukan di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) Palembang menuntut penyelesaian permasalahan Tenaga Kerja Asing yang menjadi perbincangan belakangan ini, Selasa (1/5).

Massa aksi hari buruh tersebut sudah berkumpul sejak pukul delapan pagi, mereka datang kompak menggunakan baju bewarna merah sambil membawa rangkaian spanduk beserta poster berisikan tuntutan.

Wakil ketua Kasbi Kordinator Wilayah Sumatera Selatan, Dodi dalam aksinya, para buruh menilai momen hari buruh merupakan waktu yang paling pas untuk menyampaikan aspirasi mereka.

Tuntutan SPSI Jabar

Sebanyak 5000 buruh dari Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Jawa Barat menggelar aksi memperingati hari buruh Internasional atau Mayday di depan Istana Negara, Selasa, 1 Mei 2018. Bersama elemen buruh lainnya, serikat yang dipimpin oleh Ketua SPSI Jabar Roy Jinto ini meminta pemerintah mengkaji ulang Perpers 20/2018 tentang Tenaga Kerja Asing.

Menurut Roy, Perpres ini harus diwaspadai karena memberikan ruang kepada tenaga kerja asing untuk bekerja di Indonesia dengan skill yang kurang memadai. Hal ini sudah terjadi di antaranya di sejumlah proyek pembangunan jalan, PLTU, hingga pembangunan Bandara Kerta Jati di Majalengka.

“Faktanya banyak ditemukan di daerah tenaga kerja asing yang tidak mepunyai skill ini juga bekerja,” kata Roy.

Menurut dia, Mayday adalah momentum untuk mengingatkan kembali pemerintah. SPSI sendiri sebelum Mayday sudah menyatakan sikap resmi ke kementerian sejak Perpres ini muncul.

“Cuma nampaknya Perpres ini tetap enggak dicabut. Maka dari itu kami akan lakukan Judicial Review terkait Perpres ini,” ucap dia.

Roy pun berharap, Perpres ini bisa direvisi segera. Jika tidak, bukan tidak mungkin pihaknya menggelar aksi khusus terkait isu ini. “Kami tidak akan bosan melakukan perjuangan, baik turun ke jalan secara aksi maupun melalui hukum,” kata dia.