Detak-Palembang.com JAKARTA – Tol Trans-Sumatera yang membentang dari Bakauheuni, Provinsi Lampung menuju Palembang, Provinsi Sumatera Selatan yang terus di kebut pengerjaannya oleh PT Hutama Karya (Persero) sampai selesai dan ditargetkan April 2019 sudah rampung dan dapat digunakan.

Direktur Human Capital dan Pengembangan PT Hutama Karya (Persero) Putut Ariwibowo mengatakan, pihaknya yang diberi tugas oleh pemerintah untuk menggarap proyek ini sangat yakin dapat menyelesaikannya sesuai target.

Hingga kini proses pengerjaan terus dilakukan dan dikerjakan. “Insya Allah, (jalur tol) Bakauheni menuju Pelembang diresmikan April 2019,” kata Putut seperti dikutip kompas.com.

Putut menyebutkan, dalam pengerjaan Trans-Sumatera ini terdapat sebanyak 24 ruas tol dengan total panjang mencapai 2.700 km. Semuanya sudah masuk ke dalam prioritas untuk segera diselesaikan dan dirampungkan. Sehingga pada lebaran 2019 mendatang sudah bisa difungsikan dan digunakan.

“24 ruas ini menjadi prioritas. Mudah-mudahan segera selesai,” ujarnya.

Baca juga: Bangun Tol Terbanggi Besar-Kayu Agung, Hutama Karya Dapat Rp 2 Triliun dari Bank Mandiri

Kini, pengerjaan jalur tol Bakauheni-Palembang sudah mencapai 347 km dari 380 km yang direncanakan. Sedangkan, sisa 33 km dari ruas tersebut merupakan bagian dari ruas Kayu Agung-Betung yang konsesinya dimiliki oleh pihak lain.

Dia mengatakan, dalam penggarapan sejumlah tol Trans-Sumatera ini pihaknya mendapat sejumlah hambatan atau masalah. Antara lain masalah pembebasan lahan masyarakat yang masuk ke dalam jalur tol. Kendati demikian, dia mengaku  hal ini sudah bisa diatasi dengan baik.

“Membangun tol Trans-Sumatera kita juga harus membangun ekonominya. Ini memerlukan inisiatif dari semua pihak, khusus pemerintah daerah dalam pengembangan ini,” sebutnya.

Selama ini, sejumlah pihak menganganggap pembangunan serta kehadiran tol akan memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Namun Putut menilai sebaliknya, karena ini dapat mengubah pola distribusi logistik untuk kebutuhan warga.

“Distribusi yang awalnya linier akan menjadi rata atau pemerataan. Apalagi ruas atau jalurnya ada integrasi dengan pelabuhan-pelabuhan,” ucapnya.