Detak-Palembang.com PALEMBANG – Bangsa Indonesia sangat beruntung dalam usia kemerdekaan yang ke 72 masih berdiri sebagai negara, itu.merupakan suatu prestasi yang monumental karena masih berdiri sebagai negara dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Tito Karnavian mengatakan, NKRI harus disyukuri bukan sebagai sesuatu yang seharusnya terjadi tetapi sebagai sesuatu yang penting.

“Kabangsaan /NKRI merupakan sesatu yang harus kita rawat sama seperti kesehatan, betapa mahalnya sehat kalau sudah merasakan sakit, seperti sakit ginjal kita akan cuci darah tidak ada gunanya harta,” jelas Tito saat penyampaian kuliah umum dalam Kongres ke 4, BEM Perguruan Tinggi Agama Islam se-Indonesia di Universitas Islam Negeri Raden Fatah, Selasa (11/10).

Lanjutnya, Uni soviet negara terbesar pada masanya baik ekonomi dan persejataan akhirnya runtuh tercerai berai. Contoh lain temannya pendiri bangsa Soekarno, yakni  Yosef Bross Tito yang sama sama mendirikan negara. Bangsa dan Negara Indonesia masih berdiri, sementara negaranya Yosef sudah terpecah menjadi 7 negara kecil.

“Indonesia harus kita kelola agar tidak pecah karena punya potensi pecah. Faktor yang menyebabkan pecah secara internal adalah kesenjangan secara ekonomi yang berdampak pada komplik. Sementara faktor external adalah adanya pengaruh demokrastisasi dan liberalisasi dari dunia. Dunia yang saat ini dikuasai barat memaksakan hegemoninya yakni faham liberal yang bertentangan dengan sendi-sendi kebangsaan yang ada,” urainya.

Menjadi pertanyaan Tito, kesejahteraan dahulu atau Demokrasi. Indonesia memilih demokrasi dahulu baru kesejahteraan, berbeda dengan Singapura dan Malaysia yang memilih kesejahteraan lebih dahulu baru demokrasi.

“Persaingan dunia akan dikuasai oleh penguasaan ekonomi tidak lagi persenjataan militer. Indonesia mempunyai potensi untuk penguasaan ekonomi dan memenangkan persaingan global,” katanya.

Bloomberg dan Price Water Cooper memprediksi bahwa ditahun 2030 Indonesia akan menjadi 5 besar ekonomi dunia. Dengan syarat bahwa stabilitas politik dan keamanan  dan pertumbuhan diatas 5 persen.

“Saya berharap mahasiswa harus memahami ini. Apa kontribusi mahasiswa terutama mahasiswa islam? Kontribusi pemuda dan mahasiswa sangat besar, perubahan di Indonesia dalam sejarahnya dilakukan oleh pemuda dan mahasiswa,” tutupnya.