Detak-Palembang.com PALEMBANG – Ada tiga bidang yang menjadi sasaran utama dari Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAD-GRK) yakni sektor lahan yang terdiri atas pertanian dan lahan gambut, sektor energi meliputi transportasi dan industri, sektor pengelolaan limbah baik padat maupun cair.

Ketua Pokja RAD-GRK Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Hadenli Ugihan mengatakan, penyumbang terbesar emisi GRK sebesar 98,05 % adalah bidang berbasis lahan berdasarkan Proyeksi Business as Usual (BAU) Prov Sumsel tahun 2020 tampa intervensi aksi mitigasi.

“Sumsel pada tahun 2016 berhasil menekan titik api hingga 90% dan dipertahankan pada tahun 2017 walaupun ada kebakaran kecil namun dapat diatasi,” jelas Hadenli di Hotel Aryaduta, Selasa (05/11).

Lanjutnya, penyumpang emisi GRK berikutnya adalah dari sektor energi 1,84% dan sektor limbah sebesar 0,11%.

“Rencana aksi penurunan emisi GRK susah menjadi kebutuhan yang harus dilanjutkan. Hal ini menjadi tolak ukur kinerja pemerintah daerah dalam penurunan emisi,” urainya.

Dikatakannya, Sumsel mempunyai target penurunan awalnya sebesar 10,16% ditahun 2020 dan akan disesuaikan beaarannya sesuai kesepakatan hibgga tahun 2030.

“Aksi ini tidak akan berjalan tanpa keterlibatan pemerintah dan pemangku kepentingan. Dokumen RAD-GRK hampir rampung dan agar dapat menjadi kebijakan pemerintah harus me dapat masukan dari semua pihak,” ungkapnya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan Prov Sumsel, Edwar Chandra mengatakan bahwa prov Sumsel sudah baik dalam hal penurunan emisi GRK.

“Penurunan emisi karbon tahun 2030 dengan target 29% akan kita capai. Aksi itu juva harus disinkronkan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Ditambahkannya, pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan menjadi target utama pihaknya. Saat ini pihaknya sedang berfokus pada target 29% dan sedang berproses untuk menyiapkan segalanya.