Detak-Palembang.com MOSKWA – Hak sebagai warga negara untuk menyuarakan hak kebebasan demokrasinya dimiliki setiap orang, namun jika belum cukup usia tentu ini menjadi masalah lain. Dilarangnya anak-anak ikut dalam sebuah demonstrasi diterapkan di setiap Negara. Demikian juga di negara Rusia, aparat kepolisian telah menagkap seorang anak berusia 12 tahun setelah mengikuti unjuk rasa menentang pelantikan Vladimir Putin menjadi Presiden Rusia ke empat kalinya.

Dalam video yang beredar seperti diberitakan Daily Mirror, seorang anak bernama Egor Pryanishnikov yang tinggal di kota Saratov itu menyatakan dengan menyuarakan kekecewaan dan kemarahannya terhadap keadaan di tempat tinggalnya.

Pryanishnikov menegaskan bahwa dirinya tidak takut ikut dalam aksi unjuk rasa menentang Putin.

“Mengapa saya harus takut? Mengikuti aksi demonstrasi tersebut merupakan hak dasar yang diterima setiap warga negara,” kata Pryanishnikov. Namun, ketika dia mengikuti demo, dua orang polisi menangkapnya.

Dengan tangan ditempatkan di belakang, Pryanishnikov dimasukkan ke mobil, dan dibawa ke kantor polisi. Aksi polisi itu langsung menuai kecaman dari para demonstran.

Mereka meneriakkan “memalukan!” ketika mereka membawa Pryanishnikov pergi.

Beberapa saat kemudian, Pryanishnikov dilepaskan dan dikembalikan kepada ayahnya. Dia dilaporkan meninggalkan kantor polisi sambil menangis.

Pengacara yang disewa oleh para pengunjuk rasa menyatakan, polisi membawa Pryanishnikov karena para demonstran “bertindak ekstrem dan seperti Nazi”.

Selain itu, polisi berkata Pryanishnikov berjalan sendiri tanpa didampingi pengawasan.

“Ini merupakan alasan standar menangkap anak yang ikut demo,” kata pengacara itu.

Demo tersebut terjadi saat pelantikan Putin sebagai presiden di periode keempatnya Senin (7/5/2018).

Kalangan oposisi memprotes kekuasaan absolut yang dipegang olehnya. Mengenakan tulisan “Dia Bukan Tsar (Raja) Kami” demonstran menganggap Putin dan sekutunya, Dmitry Medvedev, melakukan korupsi.

Dalam demonstrasi yang terjadi Sabtu (5/5/2018) dilaporkan polisi menangkap para pengunjuk rasa hingga 1.600 orang. Termasuk di antaranya pemimpin oposisi Alexei Navalny.