Detak-Palembang.com PALEMBANG – Dalam beberapa hari ini kota Palembang sempat di hebohkan terkait  meninggalnya Jmr (8)  diduga usai diimunisasi bakteri tetanus, hingga kini masih dalam kajian pihak Komite Daerah Pengkajian Penanggulangan Kejadian Ikatan Pasca Imunisasi (Komda KIPI) Palembang. Kejadian ini dinilai beberapa pihak bisa berakibat hukum bagi paramedis yang melakukan imunisasi.

Menurut Ketua Penasehat Hukum Indonesia (IPHI) Kota palembang, Mulyadi, apabila terbukti melakukan kelalaian dalam menjalankan tugas dari tenaga medis Puskesmas 7 Ulu Palembang, bisa berakibat hukum, karena kelalaian telah menghilangkan nyawa seorang siswa Sekolah Dasar (SD).

“Dalam setiap melakukan imunisasi bagi siswa, sebelumnya tenaga medis tersebut harus terlebih dahulu memastikan kondisi tubuh pada si anak, apakah dalam keadaan sehat atau sedang dalam keadaan sakit, “ ujar Mulyadi.

Sesuai prosedur yang berlaku, lanjut Penesehat Hukum Kondang ini bahwa harus dipastikan segala sesuatunya dengan baik. Karena jika lalai yang berakibat korban meninggal dunia bisa dituntut secara pidana.

“Barang siapa lalai dalam menjalankan tugas, itu artinya tidak teliti apalagi mengakibatkan hilangnya nyawa seorang diatur dalam Pasal 359 KUHP dengan

ancaman 5 tahun penjara, karena ini tenaga medis diatur dalam UU khusus dan wajib dilaporkan dengan organisasi yang menaungi,” ungkap Mulyadi saat dikonfirmasi via telepon Selular , jumat (17/11).
 
Namun, sebelum memvonis seseorang apakah telah melakukan kelalaian atau tidak dalam menjalankan tugas Mulyadi menjelaskan harus dilakukan dilakukan penelitian dan penyelidikan terlebih dahulu terkait penyebab korban tersebut bisa meninggal.

“Kita berharap juga kepada pihak keluarga agar melapor ke pihak Kepolisian, artinya dalam hal ini kepolisian bisa terlibat dalam penyelidikan, selain menunggu dari kajian pihak Komda KIPI Palembang,” jelasnya.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan Kota Palembang, dr Letizia menuturkan, pihaknya sudah menerima rekam medis selama Jumiarni dirawat beberapa hari di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Namun, dr Letiza enggan membeberkan diagnosanya karena masih akan dikaji terlebih dahulu.

“Sudah dapat rekam medisnya, tapi saya tidak mau sebutkan sebelum dikaji tim ahli. Hasilnya nanti kita umumkan, kami juga telah melakukan imunisasi pada siswa berjumlah 6.300 orang, makanya kami bingung ada siswi yang katanya akibat diimunisasi. Isu itu belum bisa dipastikan,” katanyanya.

 

Lanjutnya, sejauh ini Dinas Kesehatan pernah terdapat kasus kematian akibat imunisasi di Sumsel, terutama jenis bakteri tetanus. Pada bulan ini rencananya pihaknya akan mengimunisasi 62 ribu siswa kelas satu dan dua SD sederajat di Palembang.

Kepala Balai POM Palembang, Setia Murni mengatakan, pihaknya juga tengah menyelidiki penyebab kematian korban dengan mengambil sampel vaksin dari Puskesmas 7 Ulu Palembang. Dari temuan awal, vaksin itu masih layak digunakan karena masa pemakaian berakhir Juni 2019.

“Saya sendiri sudah cek ke Puskesmas itu, tempat penyimpanan bagus, tidak ada masalah. Tapi kita teliti dulu sampelnya, nanti kita tunggu saja hasilnya,” ujarnya singkat.

Sementara itu ditempat terpisah Kepala Puskesmas 7 Ulu Palembang, Rustina mengatakan, saat imunisasi digelar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Hikmah Palembang beberapa hari lalu, pihak-pihak menurunkan dua orang medis. Jumlah ini cukup ideal mengingat jumlah siswa yang divaksinasi hanya 60-an orang.

“Semuanya sesuai Prosedur Alatnya masih steril, dipakai satu suntik untuk satu orang, habis itu dibuang di tempat khusus. Waktu ada keluhan, Jumiarni juga kami layani, kami bawa ke rumah sakit,” ujarnya.