Detak-Palembang.com MANILA – Jumat (10/02), Presiden Filipina Rodrigo Duterte lebih memilih menghadapi regu tembak dari pada di hukum penjara jika ia bersalah atas tuduhan tindak kejahatan kemanusiaan dalam penegakan hukum di negara yang ia pimpin.

Hal tersebut diungkapkan Duterte kepada jaksa Mahkamah Pidana Internasional (ICC). Namun, Duterte mempertanyakan apakah ICC memiliki wewenang untuk mendakwa dirinya atas kematian ribuan warga Filipina dalam perang yang dilancarkannya untuk memberantas narkoba.

“Saya ingin mendapat kesempatan langka itu, berbicara dengan Anda. Hanya kita berdua di dalam ruangan,” kata Duterte dalam acara jumpa pers, mengacu pada Bensouda.

“Saya sambut. Kalau Anda ingin menganggap saya bersalah, silakan. Ya sudah. Cari negara yang menghadapkan orang dengan regu tembak dan saya siap.

“Kalau Anda ingin membawa saya ke dari satu persidangan ke persidangan lainnya yang penuh omong kosong, tidak perlu itu. Jalankan saja investigasi Anda. Tentunya, saya dinyatakan bersalah. Anda bisa lakukan itu.”

Sekitar 4.000 warga Filipina, yang sebagian besar dari kalangan miskin perkotaan, terbunuh oleh polisi dalam perang antinarkoba, yang digagas Duterte dan telah mengkhawatirkan masyarakat internasional itu.