Detak-Palembang.com PALEMBANG – Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIP) Berdasarkan Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2002 tentang Karantina Ikan, PERMEN KP No. 15/MEN/2011, terbagi menjadi tiga.

Sugeng Prayogo, Kepala SKIP Palembang mengatakan ketiga Tupoksi itu yakni Tupoksi Karantina Ikan adalah pertama mencegah masuk dan tersebarnya Hama dan Penyakit Ikan Karatina dari luar negeri, dari suatu area ke area lain didalam negeri atau keluarnya dari wilayah Negara Republik Indonesia. Kedua, menyelenggarakan fungsi yang diatur dalam tentang Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan yang masuk atau keluar dari Wilayah Indonesia. Ketiga, mencegahnya keluarnya sumberdaya ikan secara ilegal keluar.

“Penyakit yang kita cegah masuk dan penyebarannya dibagi dalam tiga kategori, Penyakit yang belum ada di Indonesia dan belum ditemukan teknik pengobatnya.

Penyakit ikan dari luar yang sudah ada di Indonesia tapi jumlahnya belum banyak tetapi teknik pengobatan sudah bisa, jadi kalau terkena penyakit itu kita sudah bisa mengobatinya.

Juga hama penyakit ikan yang memang sudah ada di Indonesia sejak dulu jadi sudah lumrah seperti orang batuk pilek saja,” urainya saat silaturahmi dan sharing informasi dengan insan pers di Kantor SKIP Palembang, Jumat (13/04).

Ia melanjutkan di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam dua tahun terakhir hama penyakit ikan tidak ada di Sumsel, sebelumnya ada hama penyakit ikan Nila di daerah Musi Rawas, karena pintu air di buka hingga kering selama 10 bulan mengakibatkan bibit ikan nila kosong dan dipasok dari jawa namun penyakit itu sudah bisa diatasi.

“Untuk mengatasi hama penyakit ikan, kita buat peta sebarnya, misalnya untuk Sumsel, Kota Palembang mempunyai potensi penyakit apa saja begitu juga daerah lain. Seandainya akan mengirim ikan dari Sumsel ke jakarta maka kita akan melihat peta sebarnya, kalau di Jakarta belum ada hama penyakit ikan seperti yang ada di daerah Sumsel maka akan kami uji dulu sampai ikan itu bebas dari penyakit setelah itu baru bisa dikirim,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan, begitu juga perlakuan sebaliknya, misalnya di Sumsel belum ada penyakit udang seperti yang ada di Lampung, maka dipastikan udang itu sudah bebas penyakit baru bisa masuk ke Sumsel.

“Hama penyakit ikan dicegah untuk melindungi budi daya ikan kita dan mencegah kerugian yang besar dengan matinya ikan secara besar besaran,” tutupnya.