Detak-Palembang.Com PALEMBANG – Tiga besar penyumbang devisa untuk Indonesia adalah CPO, Pariwisata dan Migas. Khusus untuk sektor Pariwisata menjadi yang tercepat pertumbuhannya, oleh karena itu Presiden Joko Widodo memberikan target kepada Menteri Pariwisata, Arief Yahya untuk tahun 2019 atau paling lambat 2020 menjadikan Pariwisata menjadi penyumbang devisa nomor 1.

Arief Yahya mengatakan  Bali menjadi penyumbang devisa terbesar dengan 40 persen disusul oleh Kota Jakarta 30 persen dan Kota Batam dengan 20 persen. Untuk negara penyumbang devisa terbesar berasal dari negara China lalu negara Malaysia dan Australia.

“Kita meyakini tahun 2019 sektor pariwisata akan menjadi penyumbang devisa nomor 1 dengan nilai devisa sekitar $20 miliar dibandingkan dengan CPO sebesar $16 miliar pada saat ini,” jelas Arief Yahya saat Dialog Publik Pembangunan Manusia    “Peningkatan Produktivitas Masyarakat Berbasis Pariwisata Lokal” di Aula Graha Sriwijaya Unsri Bukit Besar Palembang, Rabu (06/02).   

Lanjutnya, untuk mewujudkan itu ada 3 hal besar yang akan dilakukan, pertama pengembangan destinasi, kedua pemasaran dan yang ketiga penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM). Ketiganya secara paralel dikerjakan dengan standar kelas dunia.

“Untuk pengembangan destinasi kita membangun  Center of Excellence (pusat layanan unggulan) untuk bidang-bidang tourism seperti Sport Tourism di Sumsel, Geotourism di Medan, Halal tourism di Lombok, Culture Tourism di Bali, Marine Tourism di Makassar, Culinary Tourism di Bandung,” urainya.

Sementara untuk pengembangan SDM, Arief Yahya akan membuat pelatihan dan pendidikan yang berstandar dunia sehingga pelayanan kepada wisatawan menjadi lebih baik lagi.

“Kalau untuk Sumatera Selatan, fokus saja pada Sport Tourism. Untuk itu tidak ada yang mengalahkan Sumsel, kalau untuk lainnya ada yang mengalahkan misalnya kuliner asli Palembang Pempek naka pesaingnya ada Rendang dari Padang,” katanya.

Ia menyampaikan bahwa investasi Sumsel untuk Sport Tourism sudah sangat besar, terakhir sudah menjadi host Asian Games bersama Jakarta dan keberhasilannya sudah level internasional.

“Sport Tourism tidak kecil dan media value nya sangat tinggi. Sport Tourism Sumsel tidak ada yang dapat mengalahkannya. Semua provinsi di Indonesia tidak ada yang selengkap Sumsel untuk Sport facilities. Tinggal lagi untuk mengadakan event-event internasional, rugi besar pengusaha lokal kalau ada international event tidak mempromosikan diri,” tutupnya.