Detak-Palembang.com PALEMBANG – Rakor sebagai tindak lanjut penanganan Pangasius/Dori (ikan patin) ilegal dari Vietnam diselenggarakan oleh Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Kelas II Palembang, Kamis (02/11).

Widodo Sumiyanto Kepala Pusat Pengendalian Mutu, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia mengatakan dengan di tolaknya Dori/ikan patin Vietnam oleh Eropa dan Amerika maka terjadi kekosongan di pasaran.

“Kita senang dengan hal ini, karena ikan kosong dipasaran sedangkan pesanan banyak menjadi peluang kita untuk mengisinya,” kata Widodo.

Lanjutnya, pada 25 September 2017 pihaknya sudah melakukan operasi beredarnya ikan patin vietnam ilegal, dan hasilnya didapati 1,3 ton ikan patin vietnam ilegal.

“Kita sedang mencari tau siapa pelakukan, siapa yang memasukkannya ke Indonesia. Komitmen kita melarang Diri masuk ke Indonesia,” tegasnya.

Lanjutnya, dori dari Vietnam mengandung zat berbahaya yang beracun karena mengandung  Tripolifospat sebesar 7000 ppm diatas batas yang diizinkan 2000 ppm sehingga berbahaya bagi kesehatan.

“Palembang selaku produsen patin terbesar di Sumsel saya minta untuk mengisi kekosongan pasar.  Tolong di sediakan  patin yang aman dikonsumsi,” pintanya.

Pada kesempatan yang sama M.W Giri Pratikno Kepala BKIPM Palembang mengatakan rakor untuk menyikapi masuknya dori ilegal ke Indonesia.

“Ini sebagai pengawasan secara berkala kita, apalagi Palembang merupakan sentra patin di Sumsel,” ungkapnya.

Pihaknya sudah sidak ke pasar dan pusat ritel dan hasilnya nihil, belum ditemukan ikan Dori masuk ke Sumsel.

“Mudah-mudahan kedepannya stabil tidak ada masuknya ikan dori secara ilegal. Dengan ini harga ikan patin lokal akan menjadi lebih tinggi,” harapnya.

Giri juga memberikan perbedaan antara ikan patin Vietnam dengan patin lokal, Umumnya kalau patin lokal itu agak kepink-pink ngan, tapi kalau dori Vietnam itu keputih-putihan karena terlalu banyak mengandung air serta pengaruh dari Tripolifospat.