Pasokan pupuk Urea di gudang PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) (Dok. Humas PT Pusri / Detak-Palembang.com)
Pasokan pupuk Urea di gudang PT Pupuk Sriwijaya (Pusri) (Dok. Humas PT Pusri / Detak-Palembang.com)

DETAK-PALEMBANG.COM, PALEMBANG – Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan penyaluran pupuk subsidi, dapat meningkatkan produktivitas pertanian di Sumatera Selatan (Sumsel).

Bahkan di tahun 2021, Kementan menambahan alokasi pupuk bersubsidi, menjadi 9 juta ton plus 1,5 juta liter pupuk organik cair.

Jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan alokasi tahun 2020, sekitar 8,9 juta ton.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) Sumatera Selatan (Sumsel), Bambang Pramono menuturkan, dengan adanya pupuk subsidi, para petani khususnya di Sumsel sangat terbantu dan dipastikan meningkatkan produktivitas petani.

“Memang peningkatan produktifitas, tidak hanya semata dari pupuk subsidi saja,” ucapnya, saat ditulis Kamis (18/11/2021).

Menurutnya, ada banyak faktor lain seperti, benih, alat mesin pertanian dan terus pengawalan teknologi spesifikasi. Namun, faktor pupuk subsidi juga meningkatkan produktifitas.

Pupuk subsidi juga, mendorong petani untuk melakukan pemupukan berimbang.

Dengan manfaat pupuk subsidi tersebut juga terasa, dengan petani yang akan mendapatkan harga yang wajar, mendapat perlindungan harga, karena harga pupuk subsidi mengikuti acuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Petani sangat berharap pupuk subsidi ini dapat tersedia pada saat dibutuhkan oleh petani. Saat musim tanam, petani berharap ketersediaan pupuk tersebut ada di gudang -gudang dan terdekat dari lahan sawah mereka,” katanya.

Lalu, petani sangat berharap adanya ketepatan dosis yang dibutuhkan oleh petani. Pupuk subsidi itu juga, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daripada tanaman yang ditanam oleh petani.

Pasokan Pupuk Subsidi

Terkait ketersediaan pupuk subsidi di Sumsel, kata Bambang, pada tahun 2021 mendapatkan 6 Jenis pupuk, terdiri dari Urea, SP-36, ZA, NPK, organik, Garanul dan Organik Cair.

“Untuk alokasi tanaman pangan ada Urea, NPK dan organik cair, untuk urea alokasinya, 139.279 ton, realisasi 81.216,85 artinya sampai dengan akhir bulan September kemarin itu sudah terserap 58,31 persen,” ujarnya.

Yang kedua yaitu pupuk NPK alokasinya 82.959 realisasi 68.638,6, yang sudah terserap sampai bulan Desember itu adalah 82,74 persen.

Sedangkan organik cair diakuinya, memang sampai saat ini masih belum tersedia di Sumsel, sehingga sampai saat ini penyalurannya belum terealisasi.

Bambang menjelaskan, penyebab terjadinya penurunan serapan sampai bulan September 2021, yang masih 60 persen.

Karena penurunan dosis pemupukan Urea, yang semula 200 kilogram per hektarez menjadi kisaran 50 Kilogram sampai 150 Kilogram per hektare, yang tergantung kondisi daerah setempat.

“Bisa 50 kilogram per hektare, bisa 100 Kilogram, bisa 150 Kilogram per hektare yang semula 200 Kilogram,” ujarnya.

Hal tersebut, lanjutnya, juga yang meyebabkan petani berubah menjadi ke pupuk NPK, NPK sudah 82,74 persen.

Sedangkan puncak tanam di Sumatera Selatan itu terjadi di bulan Oktober, November dan Desember.

“Artinya belum berlangsung nih, baru saja berakhir, November, Desember itu puncak tanam juga, tapi ketersediaan pupuk NPK memang tidak begitu besar lagi karena sisa alokasi tinggal 14.000 kilogram, karena sudah terserap hampir 83 persen,” jelasnya.

e-RRKK Pupuk Subsidi

Kendala lain, selain ada perubahan dosis, sambung Bambang, yang menonjol adalah identitas petani atau KTP-nya belum ada.

Karena hal tersebut adalah alat tebus pupuk. Dan tanpa KTP-nya tidak bisa.

Dia melanjutkan, tanpa itu tidak bisa, karena sekarang itu petani menembus pupuk itu kan berdasarkan input di sistem Elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Petani (E-RDKK).

“Persoalan di lapangan yang kita temui seperti itu,” katanya.

Meski demikian, Bambang berharap, pupuk subsidi dapat dialokasikan dan terus didorong, walaupun tidak harus terpenuhi kebutuhan pupuk dalam satu tahun.

Tapi paling tidak, kebutuhan yang selama ini dialokasikan oleh pemerintah itu dapat lebih baik di dalam penyalurannya. Tepat waktu, tepat dosis, tepat mutu.