Detak-Palembang.com ZIMBABWE – Nasib pemerintahan di Zimbabwe masih menggantung pascakudeta yang dilakukan militer di negara itu dengan dalih mengamankan Presiden Robert Mugabe dan keluarganya. Belum dipastikan jikalau Mugabe, diktator yang sudah memerintah selama 37 tahun, bakal mundur atau tidak.

Apalagi kemudian muncul foto Presiden Robert Mugabe yang menjabat erat tangan Panglima Militer Jenderal Constantino Chiwenga sambil tersenyum, sebagaimana dilansir Reuters. Hal itu menguatkan klaim militer bahwa “kudeta” yang dilakukan atas seizin Mugabe. Militer malah menyebutnya bukan kudeta, namun operasi pengamanan.

Situasi pascakudeta sejak tiga hari lalu belum menunjukkan arah yang jelas kepastian pemerintahan di negara itu. Hal itu disebutkan membuat rakyat Zimbabwe kebingungaan atas situasi ini.  Media-media asing juga menyebut kejadian transisi kekuasaan Zimbabwe ibarat drama.

Presiden Mugabe sejak lama memang dikritik setelah sekian lama memerintah. Amerika Serikat juga menuding bahwa Mugabe melakukan banyak pelanggaran HAM hingga kecurangan Pemilu hingga bisa bertahan di kekuasaan lebih dari tiga dekade.

Kekuasaan lebih dari 30 tahun mirip era Presiden Soeharto di Indonesia. Namun setelah 32 tahun berkuasa, rezim Orde Baru yang dibangun Soeharto runtuh pada tahun 1998 yang mengantarkan era demokrasi usai Reformasi. Era Reformasi akhirnya bisa terjadi setelah terjadi rentetan kerusuhan dan demonstrasi besar-besaran di beberapa daerah dan di Jakarta.

Wakil Menteri Luar Negeri AS urusan Afrika, Donald Yamamoto berharap bahwa “kudeta” ini bukan permainan Mugabe agar bisa mempertahankan kekuasaan.

“Semoga tahap ini adalah era transisi baru bagi Zimbabwe. Itu yang kami harapkan,” kata Yamamoto.