Detak-Palembang.Com PALEMBANG – Bagi perguruan tinggi banyaknya dosen bergelar profesor menunjukkan kualitas perguruan tinggi tersebut, sementara untuk dosen sendiri meraih gelar profesor merupakan prestise tersendiri.

Dikatakan Ahmad Taqwa, Direktur Politeknik Sriwijaya (Polsri), sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 membuka peluang seorang dosen untuk meraih gelar profesor. Polsri sampai saat ini belum memiliki dosen dengan gelar profesor, namun sudah mengajukan dua orang dosen untuk itu.

“Utamanya dalam professorship ada dua paper yang optimal internasional terindeks baik, sudah cukup menopang dosen untuk menjadi profesor, asal syarat kreditnya sudah masuk,” jelas Ahmad Taqwa usai pembukaan International Conference, Forum In Research, Science and Technology (FIRST) di Hotel Horison Ultima Palembang, Selasa (30/10).

Lanjutnya, Politeknik se-Indonesia baru terbuka sejak tahun 2012, jadi saat ini se-Indonesia baru memiliki 5 profesor. Profesor pertama politeknik dari bidang pariwisata asal Manado, setelah itu profesor elektronika dan profesor mesin dari BMJ Jakarta. Ia berharap akan keluar profesor dari Polsri, untuk itu pihaknya sudah mempersiapkan semuanya.

“Hambatan dalam meraih gelar profesor adalah kelemahan dosen politeknik adalah menulis, tetapi dosen politeknik juga mempunyai kelebihan dalam berinovasi, jadi perlu mengubah mindset dosen,” ungkapnya.

Ahmad Taqwa menyampaikan, dosen kalau di Bengkel sangat Jago tetapi ketika disuruh menulis maka tulisannya ini menjadi pekerjaan rumah yang besar. Tetapi permasalahan ini tidak hanya dosen politeknik saja tetapi dosen-dosen muda se-Indonesia permasalahannya adalah menulis.

“Profesionalisme dosen adalah kemampuan memberikan informasi, memberikan penjelasan kepada orang, kepada followernya tentang ilmu yang ia teliti. Saat ini kita ingin “pecah telur” dahulu untuk mencetak dosen meraih gelar profesor setelah baru kita target untuk dosen lainnya untuk meraih gelar profesor,” tekadnya.