Detak-Palembang.Com PALEMBANG – Jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) kembali berhasil gagalkan peredaran narkoba di wilayah hukumnya. Sebanyak 10 kilogram sabu dan 4950 butir ekstasi warna biru dengan logo ‘R’ berhasil diamankan aparat Polda Sumsel.

Tersangka ditengarai merupakan jaringan peredaran narkoba antar provinsi, yakni jaringan Palembang-Surabaya. Tersangka yang tertangkap adalah OK (23), TR (21), CS (22), MH (38), FD (22), AH (24). Dari narkoba yang disita oleh jajaran Polda Sumsel, 9 Kilogram sabu dan 4950 butir ekstasi merupakan milik jaringan ini, sedangkan 1 kilogram sabu lainnya mili ET yang masih Dalam Pencarian Orang (DPO).

Sabu seberat 1,034 gram milik ET berhasil diamankan dari kediaman tersangka DD(40) di Jalan PSI Lautan, Lorong Kedukan RT/35, Kelurahan 35  Ilir, Kecamatan Ilir Barat II.

Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara dalam ungkap perkara mengatakan,pengungkapan kasus ini bermula dari penemuan 3,2 kg sabu dan 4950 butir ekstasi tanpa diketahui pemiliknya. Barang tersebut ditemukan di Bandara SMB II tepatnya di Kantor ASVEC, pada 22 Maret 2018, sekitar pukul 09.00 WIB, dan rencananya akan dibawa pelaku ke Banjarmasin.

“Untuk siapa pelaku yang membawanya ini belum tertangkap” kata Zulkarnain  dalam keterangan pers di Mapolda Sumsel, Senin (16/04).

Lanjutnya, atas upaya Ditresnarkoba Polda Sumsel, mereka akhirnya bisa memantau pergerakan para pelaku dengan cara mengembangkan informasi dari berbagai travel.

“Kami menemukan kelompok yang bersangkutan di Surabaya dan beberapa hari yang lalu kami bisa tangkap 3 orang, dari 3 orang itu kita tangkap 3 orang lagi sehingga jadi 6 tersangka. Barang bukti bahkan bertambah, dari informasi 3 tersangka terakhir, kita menemukan barang bukti 6 kg jenis sabu,” ungkapnya.

“Jadi, kurang lebih 3 kg kita tangkap di bandara (SMB II), kemudian pengkapan  di Surabaya 6 kg. Nah sedangkan yang 1 kg ini beda jaringan. Jadi total kurang lebih 10 kilogram sabu,” imbuhnya.

Ditamvahkannya, barang bukti yang ditemukan dari 6 tersangka yang akan dipasarkan di Surabaya itu dikirim dari Palembang dengan berbagai modus, di antaranya dikemas seperti berbentuk stagen dengan dibungkus lapisan kopi agar tidak tercium anjing pelacak.

“Para tersangka ini sendiri merupakan jaringan lintas provinsi, Palembang-Jakarta-Surabaya. Kami belum dapat memastikan dari mana asal mula narkoba tersebut. Kalau asal barang ini masih kita kembangkan, tapi kalau melihat jenisnya, ini kemungkinan dari Riau, bisa juga Aceh atau Sumatra Utara,” tutupnya.