Detak-Palembang.Com PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Herman Deru bersama Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya saat menyampaikan pidato perdana di Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera), Selasa (02/10) mengajak semua untuk menghormati jasa orang yang telah berjasa serta menghentikan caci maki meskipun berbeda pilihan.

Herman Deru didampingi Mawardi Yahya mengajak masyarakat untuk menghormati, mencintai orang-orang, tokoh-tokoh yang berjasa untuk negara terkhusus untuk Sumsel.

“Apakah tokoh militer, Apakah kepolisian, Apakah ASN, Apakah buruh, Apakah Pedagang, Apakah kepala daerah yang telah berjasa kepada negara dan Sumsel. Dan kita tidak akan lupa,  jasa ulama yang telah memelihara kebersamaan,” ungkap.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak suka pada caci maki kepada siapapun yang telah berjasa untuk daerah kuta pada tingkat apapun.

“Saya dan Mawardi Yahya mengajak semua untuk memulai keterbukaan. Keterbukaan yang tanpa harus ada kepura-puraan baik masyarakat maupun pemangku kebijakan dan pemimpin di daerah ini,” ajaknya.

Lanjutnya, ia akan memulai dengan apa adanya, jangan pernah mengatakan terbaik tetapi tidak sesuai dengan aslinya. Ia mengatakan sebagai manusia biasa ia dan Mawardi Yahya butuh dukungan dan bantuan utamanya doa.

“Kalau kita sudah mulai dengan keterbukaan maka saya yakin Sumsel akan lebih maju. Kita pelihara apa yang sudah disajikan para pendahulu. Jangan hanya sibuk mencaci maki untuk menutupi kelemahan kita dimasa datang. Ini yang Herman Deru dan Mawardi tidak inginkan,” tegasnya.

Dirinya fokus kedepan, Sumsel merupakan milik masyarakat Sumsel. Bersama semua unsur untuk membangun Sumsel tanpa tedeng aling-aling apapun profesinya untuk melanjutkan pembangunan.

“Jangan pernah kita tidak punya peran, jangan pernah diri kita tidak dapat berbuat apa-apa, tetapi kita dapat berperan dan dapat berbuat untuk daerah kita, asalkan kita tidak mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan,” imbaunya.

Setelah dilantik dirinya bersama Mawardi Yahya sudah ditunggu masyarakat akan apa yang akan diperbuat. Selama ia memegang amanah dan tanggung jawab maka akan dapat membangun Sumsel.

“Saya mengajak kita semua untuk tidak lupa dengan agama, apapun agama yang kita anut. Kita yakini agama sebagai alat kontrol yang paling utama untuk berbuat yang terbaik,” tutupnya.