Detak-Palembang.com PALEMBANG – Hingga akhir tahun 2017, realisasi penerimaan pajak di Kantor Wilayah Direktorat Jendral Pajak Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Kanwil DJP Sumsel-Babel) mencapai 91,06 % atau Rp13,9 triliun secara bruto. Secara Neto tercapai 12,5 triliun  atau 82,12% dari target APBN-P sebesar Rp15,262 triliun.

Kepala Kanwil DJP Sumsel-Babel, M Ismiriansyah M Zain mengatakan, ditinjau dari kinerja Kanwil DJP Sumsel-Babel secara bruto terdapat tiga Kantor Pelayanan Pajak (KPP) yang berhasil mencapai penerimaan lebih dari 100% yaitu KPP Pratama Palembang Seberang Ulu (111,23%), KPP Pratama Prabumulih (108,09%), dan KPP Pratama Sekayu (102,47%), sedangkan secara neto terdapat 2 KPP yang tercapai yaitu, KPP Pratama Palembang Seberang Ulu sebesar 106,08% dan KPP Pratama Sekayu sebesar 101,18%.

“Dilihat dari kinerja penerimaan per jenis pajak, dapat disampaikan bahwa pajak penghasilan tahun 2017 tercapai sebesar 6,47 T dengan kontribusi 51,7% dari total penerimaan, dengan pertumbuhan -0,76% dibandingkan tahun 2016. Untuk PPN dan PPnBM tercapai sebesar 4,43 T dengan kontribusi 35,4%, dengan pertumbuhan 5,8% dibandingkan tahun sebelumnya.  Sementara untuk Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) tercapai sebesar 1,4 T dengan kontribusi 11,5%  dan pertumbuhan 13,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya,” urai Ismiriansyah di Kantor Kanwil DJP Sumsel-Babel, Selasa (02/01).

Lanjutnya, sektor yang memiliki kontribusi besar adalah perdagangan, disusul  Pertambangan dan Penggalian, Administrasi Pemerintahan, Konstruksi, Industri Pengolahan, Kasa Keuangan dan Asuransi

“Persagangan berkontribusi sebesar 22,5 % dari total penerimaan, Pertambangan dan Penggalian 11,2 %, Administrasi Pemerintahan 9,7 %, Konstruksi 9,2 %, Industri Pengolahan 7,8 %, Jasa Keuangan dan Asuransi 7,3%,” jelasnya.

Ia menyampaikan, bila dilihat dari pertumbuhan pajak, sektor yang mengalami pertumbuhan terbesar adalah Sektor Pertambangan dan Penggalian dengan pertumbuhan sebesar 47,6% hal ini disebabkan oleh naiknya harga timah di tahun 2017.

“Sedangkan sektor yang mengalami pertumbuhan negatif terbesar adalah Sektor Industri Pengolahan sebesar -34,4%, dikarenakan adanya restitusi yang cukup besar di tahun 2017, bila restitusi dikeluarkan Sektor Industri Pengolahan tumbuh sebesar 10,2%,” tutupnya.