Detak-Palembang.com NEW YORK – Pasca putusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyatakan bahwa Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan berencana memindahkan Kedubesnya disana, memaksa Dewan Keamanan PBB melakukan pertemuan darurat pada Jumat (8/12). Dalam pertemuan tersebut Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk PBB, Nikki Haley, menyebut bahwa PBB telah memberikan pengaruh negatif pada proses perdamaian Isral dan Palestina.

Dikutip dari Al Jazeera, Haley berujar bahwa PBB selama ini telah merusak Timur Tengah alih-alih mengupayakan perdamaian di sana.

“PBB menjadi organisasi terdepan yang menyuarakan kebenciannya kepada Israel,” kecam Haley.

Haley menjelaskan, di setiap negara di dunia, AS selalu menempatkan kedutaannya di ibu kota negara tersebut.

Seharusnya, lanjut Haley, hal yang sama juga berlaku bagi Israel yang mengklaim bahwa Yerusalem merupakan ibu kotanya.

“Meski begitu, pengakuan ini tidak akan membuat AS turut campur pada kedaulatan Israel di situs kota suci.” kata Haley.

Di Kota Tua Yerusalem, berdiri tiga tempat keagamaan agama-agama Samawi.

Yakni Tembok Ratapan yang notabene milik pemeluk agama Yahudi, Gereja Makam Kudus yang dikelola penganut agama Kristen.

Kemudian Masjid Al-Aqsa yang merupakan tempat suci bagi umat Islam.

Selain itu, Haley berujar dirinya yakin, pengakuan Yerusalem bakal meningkatkan proses perdamaian antara Israel dan Palestina.

Saeb Erekat, ketua negosiator perdamaian antara Palestina dan Israel mengatakan, pemerintahnya tidak akan berdiskusi dengan AS sampai Trump menarik kembali ucapannya.