Detak-Palembang.com TEL AVIV – Tindakan semena-mena yang dilakukan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) terhadap demonstran Palestina dalam insiden yang mengakibatkan tewasnya Razan al-Najjar, relawan medis Palestina asal Jalur Gaza harus menjadi tanggungjawab pemerintah Zionis Israel, namun pemerintah Israel mengumumkan hasil penyelidikan awal tentang insiden tersebut menyimpulkan bahwa perawat cantik itu tak sengaja ditembak.

“Selama pemeriksaan awal mengenai insiden yang terjadi pada 1 Juni 2018, di mana seorang wanita Palestina berusia 22 tahun tewas, ditemukan bahwa sejumlah kecil peluru ditembakkan selama insiden tersebut, dan bahwa tidak ada tembakan yang secara sengaja atau langsung ditujukan kepadanya,” bunyi pernyataan IDF.

“Pemeriksaan sedang berlangsung. Selain itu, insiden itu akan diperiksa oleh General Staff Fact Finding Assessment Mechanism, dan temuannya diteruskan ke Korps Jenderal Advokat Militer,” lanjut pernyataan tersebut, yang dikutip Israel National News, 5 Juni 2018.

Razan al-Najjar—versi Kementerian Kesehatan Palestina berusia 21 tahun—ditembak mati oleh sniper militer Israel pada Jumat (1/6/2018) saat memberikan pertolongan pertama pada demonstran Palestina yang terluka oleh hantaman tabung gas air mata Israel.

Para saksi mata mengatakan, Razan sudah angkat tangan sebagai aba-aba bahwa dia relawan medis. Dia juga mengenakan rompi medis dan kartu pengenal (ID card) yang jadi penegas identitas profesinya. Sesuai Konvensi Jenewa, menembak apalagi membunuh paramedis termasuk kategori kejahatan perang.

Razan bertugas sejak demo besar Great March of Return digelar oleh warga Palestina di perbatasan Gaza-Israel Maret 2018 lalu. Perawat asal Khan Younis, Jalur Gaza, yang dijuluki sebagai “guardian angel” atau “malaikat pelindung” ini bertugas tanpa dibayar. Kematiannya menambah daftar korban tewas di pihak Palestina yang telah mencapai ratusan orang.

Sebelumnya, ibunda Razan, Sabreen al-Najjar, meyakini putrinya jadi target snipermiliter Israel. “Mereka (pasukan Israel) tahu Najjar. Mereka tahu dia adalah paramedis yang bertugas sejak 30 Maret,” katanya.

“Peluru itu bukan peluru acak. Israel memang menargetkan Najjar dan itu peluru ledak langsung ditembakkan ke dadanya, itu ulah para sniper Israel,” ujar Sabreen.

Razan sudah dimakamkan pada Sabtu pekan lalu dengan diiringi ribuan pelayat Palestina. Jauh hari sebelum kematiannya, perempuan ini menyampaikan kepada orangtuanya bahwa dia tidak takut dengan senjata Israel. Sosoknya menjadi ikon baru perjuangan warga Palestina.

“Tuhan bersama saya, saya tidak takut,” kata Razan yang masih diingat orangtuanya

“Kami memiliki satu tujuan,” kata perawat muda itu.”Untuk menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang. Dan mengirim pesan ke dunia: ‘Tanpa senjata, kita bisa melakukan apa saja.”