Detak-Palembang.com BANDA ACEH – Panglima Kodam Iskandar Muda Mayjen TNI Abdul Hafil Fuddin, S.H., S.I.P., M.H., menerima kunjungan dari rombongan Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) LVII tahun 2018 di Balai Teuku Umar, Makodam IM, Selasa (17/7/18).

Pantauan lokasi, Pangdam IM didampingi Kasdam IM, Irdam, Danrindam, para Pa Ahli, para Asisten, Kabalak dan para Dansat segarnisun Banda Aceh.

Tampak hadir dalam rombongan tersebut Sekretaris Utama Lembaga Ketahanan Nasional  (Lemhanas) RI Mayjen TNI (Purn) Putu Buana selaku pembina, pengarah dan penanggung jawab.

Selain itu, Laksda TNI Riyadi Syahardi, Wredatama Kisnu Haryo S.H, M.A, Dr. Rosita S. Noor M.A, Chusnul Chotimah S. Sos. M,Sc dan Ratiwen, S.E selaku pembimbing dan Staf serta 30 peserta Studi Strategis Dalam Negeri (SSDN)  PPRA LVII tahun 2018 Lemhanas RI.

Dalam amanat Gubernur Lemhanas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo yang dibacakan Ketua Tim Laksamana TNI Riyadi Syahardani mengucapkan terimakasih dan mengapresiasikan kepada Pangdam IM beserta jajarannya, yang telah memberikan kesempatan dan menerima rombongan Studi Strategis Dalam Negeri PPRA 57 tahun 2018 Lemhanas RI.

Laksamana TNI Riyadi Syahardani menjelaskan, kunjungan siswa SSDN PPRA LVII tahun 2018 Lemhanas RI ke Aceh, merupakan salah satu program kegiatan yang dirancang untuk memberi kesempatan kepada para peserta guna mempelajari, memahami dan mengkaji potensi dan berbagai permasalahan yang dihadapi daerah ditinjau dari aspek kesejahteraan dan keamanan.

Para peserta PPRA 57 Lemhannas RI akan melaksanakan kegiatan SSDN selama empat hari, dimulai sejak tanggal 16 kemarin, sampai dengan 19 Juli 2018 mendatang. Peserta PPRA LVII akan melakukan kunjungan ke beberapa instansi dan beberapa obyek strategis daerah yang merupakan potensi dan aset nasional bagi proses pembangunan daerah maupun nasional.

Pada SSDN kali ini, Lemhannas RI memilih Provinsi Aceh dengan harapan bisa mengetahui pembangunan nasional dan ketahanan nasional serta permasalahan-permasalahan yang dihadapi Provinsi Aceh.

Untuk tahun ini, dengan berbagai pertimbangan strategis dan potensi yang dimiliki, Provinsi aceh dipilih sebagai obyek studi strategis peserta PPRA 57 Lemhannas RI. Peserta akan difokuskan pada aspek dinamika politik sebagai tantangan ketahanan nasional sesuai dengan tema seminar PPRA 57 tahun 2018 Lemhannas RI.

“Diharapkan melalui SSDN ini, para peserta PPRA akan memperoleh gambaran kondisi wilayah yang berkaitan dengan aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan dalam perspektif ketahanan nasional,” harapnya.

Sementara, Pangdam IM menyampaikan secara umum situasi dan kondisi Aceh sampai saat ini. Jenderal bintang dua ini menyatakan bahwa Provinsi Aceh sangat aman, Aceh telah banyak mengalami perubahan ke arah yang positif, baik di bidang ekonomi sosial budaya, politik dan hankam. Disamping itu, kehidupan masyarakat Aceh telah mengalami banyak kemajuan.

“Hal ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi baik di sektor pertanian, perdagangan serta kontruksi yang menunjukan kemajuan yang signifikan dan menjadi lokomotif utama pendorong pertumbuhan ekonomi di Aceh,” kata Pangdam IM.

Dalam mendukung dan mendorong perekonomian Aceh, sambung Pangdam, Kodam IM terus berupaya menjaga kelancaran distribusi barang, melakukan pencegahan dan penindakan penimbunan barang, mendukung upaya meminimalisir pungutan liar, menjaga kondisi keamanan dan ketertiban dalam rangka menciptakan iklim investasi yang kodusif dan kenyamanan pelaku usaha dalam beraktifitas dengan mengoptimalisasikan peran jaringan kantor TNI (Koramil dan Kodim).

Seperti mengoptimalkan peran Babinsa dalam pemberdayaan UMKM dan ekonomi masyarakat, serta berupaya menghilangkan stigma konflik di Aceh dengan merubah pola pikir, sikap dan prilaku masyarakat dalam menciptakan kondusifitas, kedamaian, kerukunan dan kebersamaan demi tegak kokohnya bangsa dan NKRI.

Wilayah Kodam IM secara geografis sangat strategis karena berada di bagian ujung pulau sumatera yang berhadapan dengan selat malaka dan berbatasan langsung dengan negara tetangga.

Menurutnya, kondisi ini mengandung kerawanan – kerawanan, seperti jalur keluar masuknya peredaran narkoba internasional, ilegal fishing, ilegal mining dan penyelundupan yang dapat mengancam kedaulatan NKRI. Namun, jajaran Kodam IM senantiasa melakukan langkah-langkah antisipasi dengan mengoptimalkan peran instansi terkait lainnya, serta melibatkan seluruh komponen masyarakat untuk berperan aktif dalam menciptakan stabilitas dan keamanan yang menjadi tanggung jawab Kodam IM bersama segenap lapisan masyarakat di wilayah Aceh.

Di samping itu, wilayah Aceh juga mempunyai Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya Alam yang sangat besar, baik dari sektor tambang, laut maupun hutan. Segenap potensi yang ada ini apabila dikelola dengan baik, tentu akan sangat bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat Aceh. Hal ini dapat terwujud apabila didukung dengan kondisi wilayah yang stabil dan aman.

Aceh merupakan daerah tujuan wisata islami yang sangat menjunjung tinggi agama, budaya, adat istiadat, bahasa dan karya seni. Masyarakat Aceh juga terkenal dengan keramahannya dan sangat bersahabat dalam menerima tamu dari luar Aceh.

Wilayah Aceh juga memiliki beragam keindahan ataupun sejarah sebagai salah satu tujuan wisata alternatif dan memiliki tempat-tempat kunjungan wisata relegi serta situs-situs sejarah masuknya Islam pertama di nusantara.

Pangdam IM berharap dengan melihat secara langsung wilayah Aceh, para peserta studi strategis dalam negeri PPRA LVII Lemhannas akan mendapatkan data, fakta, masukan-masukan yang valid  dan aktual yang nantinya dapat berguna bagi para peserta, Kodam Iskandar Muda dan masyarakat Aceh.

“Saya berharap agar kegiatan ini dapat dijadikan sebagai sarana peserta studi strategis dalam negeri PPRA LVII Lemhannas, guna memberikan penjelasan dan informasi tentang langkah dan upaya Kodam IM dalam menjalankan tugas pokoknya terkait permasalahan strategis yang ada di wilayah Aceh, dalam mewujudkan Aceh yang aman, damai, sejahtera dan bermartabat sesuai visi misi pemerintah daerah Aceh,” ucap Pangdam IM.