Detak-Palembang.com PALEMBANG – Merkuri atau lebih dikenal dengan nama lain air raksa dalam nama latinnya Hydragyrum merupakan logam satu-sarunya yang berbentuk cair. Merkuri dapat ditemukan dialam baik tanah, batu-batuan, biji tambang. Merkuri sering digunakan pada pertambangan terutama tambang emas. Namun dibalik itu Merkuri merupakan zat beracun bagi manusia dan menjadi zat pencemar yang berbahaya.

World Health Organitation (WHO) pada tahun 1976 menyampaikan bahwa merkuri berbahaya bagi makhluk hidup yang dapat merusak sel sehingga kerusakan tubuh secara permanen. Oleh karenanya banyak negara yang melarang penggunaan merkuri pada pertambangan, bahan kosmetik dan lain sebagainya.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Prov Sumsel, Robert Heri mengatakan, berdasarkan Instruksi Presiden agar tidak ada lagi merkuri di Indonesia.

“Di Sumsel merkuri digunakan pada illegal minning di Kabupaten Muratara.

Kapolri sudah meeting dengan kita dan pihak terkait yang hasilnya akhir tahun ini tidak ada lagi suplai merkuri ketambang-tambang,” jelas Robert di Griya Agung, Rabu (22/11).

Lanjutnya, mata rantai dari peredaran merkuri distop total. Penambang ilegal yang menggunakan merkuri akan direkrut melalui koperasi untuk menjadi penambang yang legal.

“Nantinya mereka menjadi penambang legal dan tidak menggunakan merkuri. Karena tidak diperbolehkan menggunakan merkuri maka peredaran merkuri menjadi ilegal, berdasarkan Instruksi Presiden tadi maka penggunaan merkuri akan menjadi pelanggar hukum dan aparat dapat menindak,” tutupnya.