Detak-Palembang.Com PALEMBANG – Women Crisis Center (WCC) Palembang merilis hasil kerjanya selama tahun 2018  dalam laporan pertanggungjawaban publik dan catatan kekerasan terhadap perempuan/anak di Provinsi Sumsel tahun 2018 di Hotel The Zuri Jalan Radial, Senin (31/12).

Yeni Roslaini Izi, Direktur Eksekutif WCC Palembang menyampaikan, Data kekerasan per 1 Januari – 25 Desember 2018

  1. Perkosaan dan pelecehan seksual 79 kasus atau 59,3 %
  2. KDRT 32 kasus atau 24,3 %
  3. KDP 14 kasus atau 10,5 %
  4. Trafficking 1 kasus atau 0,7 %
  5. Kekerasan lain 7 kasus atau 5,2 %

“Karakter berdasarkan profesi/pekerjaan :

Karyawan Swasta 5 orang

Petani/Nelayan 7 orang

Pelajar/Mahasiswa 47 orang

Buruh Pabrik 5 orang

PNS 4 orang

Wiraswasta 6 orang

Dokter/Perawat/Bidan 3 orang

Ibu Rumah Tangga 30 orang

Guru/Dosen 3 orang

Pedagang 6 orang

Lainnya 18 orang,” urainya.

Lanjutnya, dari kekerasan yang dilakukan berdasarkan Profesi pelaku maka hasilnya didapat :

Buruh pabrik 5 orang

Wiraswasta 8 orang

PNS 6 orang

Guru/Dosen 2 orang

Pelajar Mahasiswa 27 orang

Kernet/Supir 14 orang

TNI/Polri 4 orang

Pegawai BUMN 1 orang

PETANI/Nelayan 17 orang

Pedagang 12 orang

Lainnya 26 orang

Tidak diketahui 15 orang.

“Bila dilihat dari Usia korban kekerasan terhadap perempuan/anak maka didapat hasilnya :

< 5 tahun 2 orang

6 – 12 tahun 9 orang

13 – 18tahun 34 orang

19 – 24 tahun 27 orang

25 – 40 tahun  44 orang

Besar 40 tahun 17 orang,” ungkapnya.

Sementara itu untuk Usia pelaku disampaikannya :

< 5 tahun  0

6 – 12 tahun 3 orang

13 – 18 tahun 9 orang

19 – 24 tahun 29 orang

25 – 40 tahun  52 orang

Besar 40 tahun 11 orang

Tidak diketahui 22 orang.

“Kami juga membuat karakteristik berdasarkan tingkat pendidikan korban. Hasilnya adalah :

< 5 tahun 2 orang

SD 14 orang

SLTP 37 orang

SLTA 66 orang

Perguruan Tinggi 12 orang

Lainnya S2/S3,  2 orang,” katanya.

Sementara untuk Tingkat pendidikan pelaku kekerasan terhadap perempuan :

<l SD 1 orang

SD7 orang

SLTP 21 orang

SLTA 54 orang

Perguruan Tinggi 18 orang

S2/S3,  4 orang

Tidakdiketahui 31 orang.

“Untuk kabupaten/kota yang tertinggi terjadinya kekerasan terhadap perempuan/anak adalah Kota Palembang sebanyak 89 orang, disusul oleh Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Muara Enim dengan 7 orang, selanjutnya Kabupaten Banyuasin dan Kabupaten Lahat dengan 6 orang. Sementara kabupaten/kota lainnya tidak terjadi pemerasan atau 0, ada yang 1 sampai 3 saja,” tutupnya.