Detak-Palembang.com RIYADH – November tahun 2017 lalu pemerintah Arab Saudi melalui Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Al-Ajrab menahan sejumlah pangeran dan menteri yang diduga terlibat dalam kasus korupsi di negeri itu. Kini, 11 pangeran kembali ditahan karena kali ini para pangeran melakukan aksi protes terkait kebijakan baru kerajaan. Penangkapan dan penahanan para pangeran tersebut dilakukan oleh pasukan elite satuan khusus di bawah pimpinan Putra Mahkota.

Kebijakan yang ditentang para pangeran itu terkait penghapusan subsidi untuk tagihan air dan listrik para bangsawan kerajaan Saudi. Kebijakan itu dikeluarkan pemerintah Saudi awal tahun ini.

“Sebanyak 11 pangeran berkumpul di depan istana Qasr al-Hokm pada Kamis (4/1/2018). Mereka keberatan dengan perintah kerajaan yang menghentikan pembayaran oleh negara untuk tagihan air dan listrik mereka,” tulis pernyataan Jaksa Agung Saud al-Mojeb, pada Sabtu (6/1/2018).

“Meski telah disampaikan jika tuntutan mereka tidak sah, para pangeran tetap menolak meninggalkan area, mengganggu ketertiban umum,” tambah Mojeb dilansir dari Arab News, Senin (8/1/2018).

Para pangeran tersebut dikenai sejumlah tuduhan dan ditahan di penjara Al-Hayer, di selatan Riyadh.

Pemerintah Arab Saudi pada 1 Januari 2018 memberlakukan kenaikan pajak pertambahan nilai sebesar lima persen untuk sebagian besar barang dan jasa. Hal itu sekaligus mengakhiri kebijakan bebas pajak yang telah berlangsung selama berpuluh-puluh tahun.

Awal November 2017 lalu, otoritas pemerintah Arab Saudi menangkap 11 pangeran dan puluhan menteri maupun mantan menteri yang diduga terlibat skandal korupsi. Langkah ini adalah upaya pemberantasan korupsi sekaligus mengonsolidasikan kekuatan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman.

Mengutip CNBC, Senin (6/11/2017), penangkapan besar-besaran itu dilakukan tak lama setelah Raja Salman mengumumkan dekrit pembentukan komite antikorupsi. Komite itu tak lain dikepalai oleh Pangeran Mohammed.

Lembaga baru tersebut diberikan wewenang yang luas untuk menginvestigasi kasus, menerbitkan surat penangkapan, mengeluarkan larangan bepergian, hingga membekukan aset.

Beberapa yang ditangkap antara lain mantan menteri keuangan dan anggota pimpinan BUMN minyak Saudi Ibrahim al-Assaf, menteri ekonomi Adel Fakieh, dan mantan gubernur Riyadh Pangeran Turki bin Abdullah.

Ditangkap pula Pangeran Alwaleed bin Talal. Ia adalah pebisnis, miliarder, dan investor yang dikenal secara internasional, di mana investasinya termasuk di Citigroup dan Twitter.