Detak-Palembang.com JAKARTA – Kasus dugaan pelanggaran terhadap tindak korupsi untuk para calon peserta pemilihan umum kepala daerah menjadi momok, bagaimana tidak, KPK melalui ketuanya Agus Raharjo akan mengumumkan peserta pilkada 2018 yang akan menjadi tersangka kasus dugaan korupsi.

“Beberapa orang yang akan ditersangkakan itu, Insya Allah kita umumkan,” kata Ketua KPK Agus Raharjo di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta, Senin (12/3).

Sebelumnya Agus mengatakan, ada beberapa calon peserta pilkada yang hampir menjadi tersangka. Agus enggan membeberkan siapa peserta pilkada yang akan ditetapkan sebagai tersangka itu. Termasuk berasal dari daerah mana, ungkapnya saat menghadiri Rakernis Polri di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Selasa (6/3).

“Janganlah, minggu ini kita umumkan,” ujar Agus.

KPK sebelumnya memiliki informasi dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) soal aliran dana yang terkait peserta pilkada. Laporan PPATK berjumlah 368 transaksi mencurigakan.

Saat ini, yang sudah ada hasil analisa berjumlah 34 laporan.

Sementara itu, Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto mengatakan, pemerintah meminta agar KPK menunda pengumuman penetapan tersangka tersebut.

“Kalau sudah ditetapkan sebagai Paslon menghadapi Pilkada serentak, kami dari penyelengara minta ditunda dulu lah ya. Ditunda dulu penyelidikan, penyidikannya dan pengajuannya dia sebagai saksi atau tersangka,” ujar Winarto di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin.

Menurut pemerintah, penetapan pasangan calon kepala daerah sebagai tersangka justru akan berpengaruh kepada pelaksanaan Pilkada.

Hal itu juga bisa dinilai masuk ke ranah politik. Wiranto menuturkan, pasangan calon kepala daerah yang sudah terdaftar bukan lagi hanya sekadar pribadi, namun sudah menjadi milik partai dan milik masyarakat sebagai pendukungnya.

Oleh karena itu, penetapan tersangka calon kepala daerah oleh KPK dinilai akan berpengaruh pada pelaksanaan pencalonannya sebagai perwakilan dari Paprol atau yang mewakili para pemilih.