Detak-Palembang.com PYONGYANG –  Korea Utara kembali meluncurkan sebuah  misil balistik antarbenua ( ICBM) pada Rabu (29/11) pagi waktu setempat.

Uji coba misil terbaru ini dianggap sebagai sebuah tantangan terhadap Presiden AS Donald Trump setelah menjatuhkan sanksi baru terhadap Pyongyang dan menyebut Korut sebagai sponsor terorisme.

Ini merupakan uji coba misil ICBM pertama yang dilakukan Korea Utara dalam lebih dari dua bulan terakhir.

Perhitungan awal Pentagon menyebut misil yang diluncurkan Korea Utara ini terbang sejauh 1.000 kilometer sebelum jatuh di zona ekonomi eksklusif perairan Jepang.

“Kami akan mengatasinya,” kata Presiden Trump menanggapi aksi terbaru Korea Utara itu.

Sedangkan PM Jepang Shinzo Abe menyebut uji coba itu sebuah langkah keras yang tak bisa lagi ditoleransi.

Akibat peluncuran misil Korea Utara ini, Jepang,  Amerika Serikat, dan Korea Selata meminta Dewan Keamanan PBB menggelar sidang khusus.

Sementara Menlu AS Rex Tillerson menekankan bahwa opsi diploatik untuk menyelesaikan isu nuklir Korea Utara masih “amat mungkin dan terbuka”.

Ini adalah uji coba ketiga rudal Korea Utara, yang menurut teori, bisa mencapai daratan Amerika Serikat, meski para pakar mengatakan Pyongyang belum mengusasi teknologi yang memungkinkan misil berhulu ledak nuklir masuk kembali ke Bumi melalui lapisan atmosfer.

Pada September lalu, Korea Utara menggelar uji coba nuklir yang keenam sekaligus yang terkuat serta menembakkan misil jarak menengah yang terbang melintasi Jepang.

Setelah itu, Korea Utara lama tak melakukan uji coba misil sehingga menimbulkan harapan bahwa sanksi internasional mulai berdampak terhadap program nuklir Korea Utara.