Detak-Palembang.com JAKARTA – Sejak kunjungan ke Israel, Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staqufyang menjabat sebagai anggota Watimpres RI menuai kontrovesi. Bahkan presiden Joko Widodo pun harus menyampaikan pandangan terhadap kondisi tersebut.

Lawatan Yahya Staquf ke Israel adalah untuk memenuhi undangan sebagai pemateri dalam kuliah umum The Israel Council on Foreign Relations yang digelar oleh AJC Global Forum.

Dalam sesi dialog di hari pertama – Minggu (10/06) waktu setempat dengan moderator AJC International Director of Interreligious Affairs, Rabi David Rosen- Yahya yang merupakan mantan juru bicara presiden keempat Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, mengikuti jejak Gus Dur dalam lawatan ke Israel.

Namun, pemerintah Indonesia meyakinkan kunjungan itu tidak akan mencederai komitmen Indonesia atas kemerdekaan Palestina.

Otoritas Palestina melalui Kementerian Luar Negerinya menyatakan kecamannya atas partisipasi delegasi ulama Indonesia yang diketuai oleh Yahya Choli Staquf dalam American Jewish Committee (AJC) Global Forum di Yerusalem.

“Palestina mengecam kunjungan itu dan tidak terima dengan kunjungan tersebut,” tegas Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al Shun,

Namun akhirnya, Yahya Staquf menjawab atas kunjungannya ke Israel. Yahya memilih fokus untuk menyampaikan pesan soal Palestina dan ‘let it be’ terhadap kecamannya.

Hal itu disampaikan Yahya saat memberi kuliah umum di The Truman Institute di Israel pada Rabu (13/6) lalu. Sebelum kuliah umum ini, Yahya lebih dahulu menjadi pembicara di forum American Jewish Committee (AJC) Global Forum yang dihadiri 2.400 orang. Pada forum di AJC itu, Yahya tidak menyinggung soal Palestina.

Video penggalan kuliah umum Yahya di The Truman Institute itu diunggah oleh Ketum GP Ansor, Yaqut Cholil Quomas di Facebook pada Kamis (14/6/2018). Video itu berdurasi 4 menit 50 detik.

Dalam kuliah umum di The Truman Institute, Yahya menegaskan bahwa kehadirannya di Israel adalah demi Palestina. Awalnya, anggota Watimpres ini memang sempat khawatir dengan kedatangannya.

“Saya datang ke Yerusalem dengan perhatian yang sangat dalam karena saya takut dan khawatir bahwa nanti ke depan semua usaha untuk perdamaian terhenti, bahkan harapan untuk perdamaian telah sirna. Walaupun saat ini situasi maupun ketegangan mengalami peningkatan, tapi ketika saya tiba di sini, bertemu, berkomunikasi dengan banyak orang, saya masih melihat bahwa masih ada harapan (untuk perdamaian),” papar Yahya.

Kedatangan Yahya ke Israel mendapat kecaman dari dalam dan luar negeri. Yahya sadar itu, namun memutuskan untuk fokus saja pada tujuannya, yaitu demi Palestina.

“Saya adalah muslim, saya ulama, dan saya mengabdi di jajaran kepemimpinan di salah satu organisasi muslim terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Anda semua bisa melihat track record dari organisasi kami dalam hal pembelaan terhadap Palestina. Jadi jelas, bahwa saya di sini untuk Palestina,” ucapnya.

“Jadi saya hanya akan berkata ‘Let it be’,” sambung Yahya.

Berikut pernyataan Yahya di The Truman Institute:

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Alhamdulilahirabil alamin Washolatu wasalamu ala Sayydina Muhammad wa a’la alihi wa sohbihi wa sairil anbiya’i ajma’in amma ba’ad
Duta Besar Brown dan Profesor Riccie yang saya hormati, Nyonya Nama Speter, Proffesor Nisin Otmazzgin, maaf jika salah sebut. 

Hadirin sekalian dan para siswa semua, saya tidak bisa menggambarkan terima kasih saya diberikan kesempatan terhormat di tempat ini. Di sini saya merasa terhormat bisa berbagi dan memberikan gagasan dan pikiran saya. 

Saya datang ke Yerusalem dengan perhatian yang sangat dalam karena saya takut dan khawatir bahwa nanti ke depan semua usaha untuk perdamaian terhenti, bahkan harapan untuk perdamaian telah sirna. Walaupun saat ini situasi maupun ketegangan mengalami peningkatan, tapi ketika saya tiba di sini, bertemu, berkomunikasi dengan banyak orang, saya masih melihat bahwa masih ada harapan (untuk perdamaian). 

Buktinya adalah saya diundang untuk hadir di sini, padahal semua orang tahu bahwa saya seorang Muslim dari Indonesia. Dari sebuah negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, dari sebuah organisasi Islam terbesar.

Meskipun demikian, saya tetap diundang oleh American Jewish Committee. Jadi, justru orang Yahudi yang mengundang dan memberi saya kesempatan untuk berbicara. Dan mereka pun telah siap di sini untuk mendengarkan saya. Tidak ada arti lain dari pertemuan ini kecuali bahwa orang-orang ini masih memiliki harapan untuk mencapai perdamaian. Orang-orang ini menginginkan solusi untuk masalah yang berlangsung saat ini. 

Beberapa orang di negara saya dan di bagian lain di dunia mengutuk saya atas kedatangan saya di sini, di Yerusalem. Mereka meneriaki saya “Anda ini muslim atau bukan? Mengapa Anda tidak membela Palestina?”

Saya adalah muslim, saya ulama, dan saya mengabdi di jajaran kepemimpinan di salah satu organisasi muslim terbesar di Indonesia, bahkan di dunia. Anda semua bisa melihat track record dari organisasi kami dalam hal pembelaan terhadap Palestina. Jadi jelas, bahwa saya di sini untuk Palestina. 

Saya tidak akan berada di sini jika bukan karena kepedulian saya terhadap masyarakat Palestina. Tapi, saya merasa tidak perlu menjelaskan tentang ini. Karena Sayyidina Ali Karomallahu Wajhah, salah sahabat nabi pernah berkata bahwa “Mereka yang menyukaimu tidak membutuhkan penjelasan darimu. Mereka yang membencimu tidak akan mengubah pikiran mereka meski kau jelaskan”

Jadi saya hanya akan berkata “Let it be”. Saya hanya akan fokus pada kepada pesa yang saya yakini perlu untuk saya sampaikan.

Sikap Indonesia

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menegaskan tidak ada perubahan apa pun mengenai kebijakan Indonesia terhadap Palestina. Kemerdekaan Palestina tetap menjadi prioritas Indonesia, apalagi setelah Indonesia terpilih sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada akhir pekan lalu di New York, AS.

“Jadi di New York kita sudah menjelaskan dan saya akan menjelaskan kembali bahwa tidak ada perubahan apa pun mengenai kebijakan Indonesia kepada Palestina. Pak Yahya pergi dan berbicara atas nama pribadi, tidak ada kaitanya sama sekali dengan kebijakan pemerintah Indonesia terhadap Palestina,” ujar Retno kepada wartawan di Istana Bogor (12/06).