Detak-Palembang.com PALEMBANG KONI Sumsel melakukan rapat kordinasi (Rakor) Litbang yang melibatkan 120 peserta guna meningkatkan bibit atlet yang ada di Sumsel.

Dihadiri beberapa tokoh olahraga seperti perwakilan KONI Pusat yang juga nara Sumber Materi dr. Johansyah, kemudian kadispora Sumsel H Akhmad Yusuf Wibowo, dan juga tak ketinggalan Ketua umum KONI Sumsel H Alex Noerdin.

Dalam rapat tersebut mantan Gubernur Sumsel periode 2008-2018 ini meminta pengrov cabor memanfaatkan 18 venue bertaraf internasional di kawasan Jakabaring Sport City (JSC) guna meningkatkan prestasi atlet Sumsel. Tapi, itu saja tidak cukup, dalam melahirkan atau meningkatkan kemampuan atlet sport science harus diterapkan.

“Olahraga sekarang tidak bisa berjalan seperti biasa saja, harus memanfaatkan iptek, dalam hal ini sport science,” ucapnya saat rapat Kamis (6/12/18) di Hotel Santika Palembang.

Alex mencontohkan postur tubuh atlet pada cabor tertentu pastinya bakal sangat menentukan. Salah satunya cabor voli indoor ataupun voli pantai. Sport science pastinya bakal sangat membantu untuk dapat melahirkan dan menciptakan atlet dengan postur tubuh lebih tinggi.

Atlet yang postur tubuh tinggi atau besar, biasanya punya keuntungan lainnya seperti rongga paruh yang lebih besar.

“VO2max juga pasti lebih baik, itu yang dibicarakan dan dibahas dalam rakor ini. Jadi dari Rakor Litbang ini, dibahas secara menyeluruh bagaimana memanfaatkan sport science untuk melahirkan atlet ataupun membantu meningkatkan kemampuan atlet,” ucapnya.

Masih kata Alex, atlet di Sumsel punya keunggulan soal fasilitas. Sumsel punya setidaknya 18 venue bertaraf internasional.

“Ada 18 venue bertaraf internasional, terbaik di Indonesia, Asia bahkan di dunia, manfaatkan sebaik mungkin,” katanya.

Sumsel sejak awal, memang punya rencana besar dalam bidang olahraga. Sumsel ingin menjadi provinsi yang kuat dan dikenal dunia dalam bidang olahraga.

Dimulai dari SEA Games 2011, disaat semua pihak ragu Sumsel jadi tuan rumah, terbukti perhelatan akbar itu berjalan sukses. Selanjutnya, beberapa event internasional tiap cabor dimainkan di Sumsel dan terakhir Asian Games 2018.

“Politeknik Olahraga di kawasan JSC, juga menjadi salah satu upaya kita mengembangkan olahraga di Sumsel,” ucapnya.

Dalam kesempatan ini, Wakil Litbang KONI Pusat Johansyah Lubis sebagai narasumber menyampaikan, jika Litbang punya peranan yang sangat besar bagi prestasi atlet di Nasional ataupun di daerah.

“Litbang bisa memberikan masukkan bagaimana mencari atlet, dengan instrumen tertentu. Litbang KONI pun bisa membantu dengan sport science untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan atlet,” jelasnya.

Litbang KONI juga punya ilmu bagaimana sprin 20 meter bisa menggambarkan serabut otot putih dan serabut otot merah dari atlet.

Atlet yang mempunyai  serabut otot putih gerakannya cepat dan lincah tetapi gampang lelah dan sedikit oksigen, makanya atlet lari marathon semuanya berjenis serabut otot merah karena mereka sanggup berlari dengan waktu yang lama karena daya tahan ototnya bagus (serabut otot merah), tetapi mereka atlet marathon kalau di suruh lari sprint akan tidak bisa juara.

“Itu pengetahuan yang harus disampaikan ke Litbang KONI di daerah,” ucapnya.

Ketua Panitia Rakor Taufik Arif menambahkan, rakor ini diikuti 120 peserta yang terdiri dari 20 pelatih yang tergabung PON 2020, 53 peserta dari pengprov cabor, KONI Kabupaten/kota masing-masing mengutus dua orang dari 17 kabupaten/kota dan 5 orang dari akademisi.

“Dalam Rakor Litbang, kita punya tiga pembahasan. Pertama, soal prestasi atlet yang menurun, regulasi penggunaan fasilitas di Jakabaring Sport City (JSC) dan terakhir dan penerapan sport science bagi atlet Sumsel,” ucapnya.