Detak-Palembang.Com PALEMBANG – Dengan alasan mengancam ekosistem serta manusia maka pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan no.41 tahun 2014, melarang 152 jenis ikan masuk ke Indonesia.

Sugeng Prayogo, Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Palembang (BKIPM) memang secara khusus membuka POSKO PENYERAHAN IKAN INVASIF mulai tanggal 01-31 Juli 2018.

“Dua warga Desa Belanti dan Desa Berkat, Kecamatan SP Padang Kabupaten OKI menemukan ikan alien sebanyak 2 ekor berukuran besar dan segera melaporkan dan menyerahkan tersebut ke Dinas Perikanan,” ujarnya Kamis (05/06).

Lanjutnya, setelah dirinya dan Dinas Perikanan OKI dan Pos PSDKP Palembang mengunjungi dan melihat ikan yang diserahkan masyarakat diketahui jenis ikan Aligator, yang mang dilarang masuk ke Indonesia.

“Bapak/ibu terimakasih sudah melaporkan ini kepada kami, ikan Aligator ini merupakan salah satu ikan yang berbahaya bagi ekosistem dan kemungkinan bagi manusia karena bisa mencapai ukuran yang sangat besar,” jelasnya.

Ikan ini merupakan ikan dari luar Indonesia masuk ke Indonesia secara diselundupkan.
Biasanya Hobbies membuang ikan ini ke perairan umum karena sudah tidak mampu membiayai untuk biaya makanan ikan tersebut.

“Kami menghimbau ke masyarakat Sumatera Selatan (Sumsel) yang masih memiliki dan memelihara ikan berbahaya dan invasif seperti contoh ikan Aligator, Arapaima, dan ikan Piranha untuk menyerahkan secara sukarela ke BKIPM Palembang sampai dengan batas waktu yang ditentukan dari tanggal 01-31 Juli 2018,” imbaunya.

Ia akan bertindak tegas sesuai dengan peraturan perundangan berlaku sesuai Undang-undang  Perikanan 45 tahun 2009 dengan ancaman pidana 6 tahun penjara bila setelah tanggal 31 Juli 2018 tidak menyerahkan ikan yang termasuk dalam 152 jenis ikan yang dilarang.