Detak-Palembang.com JAMBI – Sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jumat (25/5) kemarin yang mengagendakan pembacaan nota pembelaan atau pledoi dalam persidangan kasus dugaan seragan terror bom di Thamrin dengan terdakwa Oman Rochman alias Aman Abdurrahman yang menyatakan bahwa hanya orang-orang sakit jiwa yang menamakan serangkaian teror di Surabaya tersebut sebagai jihad.

Pernyataan Oman itu menjadi penting bagi Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dan meminta agar pernyataan tersebut diviralkan di media sosial.

“Tolong nanti viralkan pernyataan Aman Abdurahman di sidang,” ujar Kapolri di Mapolda Jambi, Sabtu (26/5).

Kapolri menilai penyataan Aman Abdurahman sangat penting untuk meredam aksi teror seperti yang terjadi di Surabaya yakni melakukan bom bunuh diri di Gereja, bahkan melibatkan anak-anak.

Tito percaya hal itu karena Aman Abdurahman adalah pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), kelompok yang diduga sebagai dalang bom Surabaya dan aksi teror di sejumlah daerah.

“Amman Abdurahman menyampaikan bahwa melakukan serangan kepada orang kafir, termasuk umat Nasrani, sepanjang dia tidak menggangu tidak boleh dan haram, berdosa, apalagi melakukan bom bunuh diri, membawa anak, itu masuk neraka. Itu bukan kata saya,” kata Kapolri.

Pernyataan Aman sebelumnya, “Dua kejadian (teror bom) di Surabaya itu saya katakan, orang-orang yang melakukan, atau merestuinya, atau mengajarkan, atau menamakannya jihad, adalah orang-orang yang sakit jiwanya dan frustrasi dengan kehidupan,” ujar Aman.

Aman menyampaikan, aksi bom bunuh diri yang dilakukan ibu dan anaknya di sebuah gereja di Surabaya terjadi karena pelakunya tidak memahami tuntunan jihad.

“Kejadian dua ibu yang menuntun anaknya terus meledakkan diri di parkiran gereja adalah tindakan yang tidak mungkin muncul dari orang yang memahami ajaran Islam dan tuntutan jihad, bahkan tidak mungkin muncul dari orang yang sehat akalnya,” kata dia.