Detak-Palembang.com PALEMBANG – Sriwijaya FC tumbang di Stadion Gelora Ratu Pamelingan Pamekasan, Madura pada Minggu (17/2/2019). Menghadapi Madura United di leg pertama babak 16 besar Piala Indonesia 2018, Laskar Wong Kito pulang membawa kekalahan dengan skor 5-0.

Gol pertama dicetak oleh Jamerson da Silva di menit ke-12, melalui sundulan. Ia berhasil mengonversi umpan silang Andik Vermansyah dari sisi kiri pertahanan Sriwijaya.

Di menit ke-19, Andik Vermansyah akhirnya menggandakan keunggulan untuk tuan rumah. Melalui tendangan bebas, ia berhasil menambah angka kedua untuk tuan rumah.

Di menit ke-29, gol ketiga pun terjadi. Kali ini, Greg Nwekolo mencetak angka sekaligus menjadi angka penutup di babak pertama tersebut.

Usai turun minum, tensi serangan dari tim tamu mulai naik. Beberapa kali Hapit Ibrahim cs membangun serangan dan menembus wilayah lawan, meskipun mereka tak bisa memanfaatkan umpan dengan baik.

Naas, di menit 72 umpan terobosan dari Zah Rahan membuat Andik Vermansyah menambah keunggulan. Ia berhasil menyarangkan bola untuk kedua kalinya ke gawang Sriwijaya FC, sekaligus menambah angka keempat untuk Madura United.

Sayangnya di menit akhir sebelum pertandingan berakhir, Alexander Rakic kembali menambah angka. Gol kelima tercipta di menit 92, sekaligus menutup pertandingan dan memaksa anak asuh Hartono Ruslan pulang membawa kekalahan dengan skor 5-0.

Pelatih Sriwijaya FC Hartono Ruslan mengakui, dirinya bangga melihan permainan anak asuhnya. Meskipun kalah 5-0, ia menganggap tim yang dibesutnya itu memang kalah dari segi pengalaman.

“Dia (Madura United) pemain  bintang semua, pemain asing. Pemain lokal level nasional semua. Tapi kita pemain Palembang semua, ga ada yang di luar Palembang, anak-anak lokal semua. Dan kita 3 hari persiapan ke sini,” ucap Hartono usai pertandingan.

Ia mengatakan, penampilan anak asuhnya tidak terlalu buruk. Sebab, di pertandingan tersebut terlihat Hapit cs bisa menembus wilayah lawan meskipun finishing akhirnya masih kurang tepat.

“Tapi kita serangan balik sampai ke depan sana juga bagus, bisa lepas dari kawalan pemain muda semua. Tapi beda kalau kita dikurung setengah lapangan sampai 90 menit, baru kita dikatakan bermain buruk. Penguasaan bola cukup baik, anak-anak mulai berani organisasi cukup rapi, mereka juga berani mainkan bola. Saya memuji pemain-pemain saya,” pungkasnya.