Detak-Palembang.com PALEMBANG – Sejak awal pekan Senin (1/10) lalu kwalitas udara di Kota Palembang sedikit kurang baik. Ini disebabkan dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Sumatera Selatan sehingga kabut asap tipis sisa pembakaran mulai menyelimuti Kota Palembang dan beberapa kota kabupaten lainnya.

Minimnya curah hujan dan musim kemarau yang berkepanjangan mengakibatkan tanaman semak belukar dan rawa-rawa kekeringan. Selain itu helicopter water bombing yang sudah berhenti beroperasi mengatasi karhutla di wilayah Sumsel.

Dampak kabut asap ini menyebabkan jarak pandang yang hanya berkisar 800 meter saja, suhu terpantau sekitar 25 derajat Celcius, titik embun 25 derajat Celcius dan tekanan udara 1010 hpa berdasarkan catatan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) SBM II Palembang.

Sebenarnya operasi pencegahan dan pemadaman api di kawasan hutan, lahan di Sumatera Selatan berhasil menekan tingkat kepekatan asap di kota Palembang selama perhelatan Asian Games pada 18 Agustus hingga 2 September yang baru lalu.

Sebagai hasilnya, selama perhelatan tersebut udara kota Palembang terbilang bersih tanpa asap. Selain itu tidak satu pun penerbangan umum maupun atlet dan official mengalami gangguan akibat asap.

Selama 2018, ada sekitar 7.300 hektare lahan yang terbakar. Bahkan titik kebakaran disebut sempat menurun selama Asian Games berlangsung, karena saat itu penanganan maksimal.

Sekarang aktivitas kebakaran meningkat lagi, terutama saat helikopter berhenti operasi karena tahap evaluasi..

Untuk diketahui, hari ini tercatat ada 77 titik hotspot di Sumatera Selatan. Dari semua titik hotspot itu, paling banyak berada di Ogan Komering Ilir sebanyak 31 titik.