Detak-Palembang.com OKU SELATAN – Saat ini tanaman jagung sudah menjadi komoditas yang menjadi unggulan bagi para petani di Kabupaten OKU Selatan.

Hal ini nampak jelas kala kita memasuki wilayah Kabupaten OKU Selatan dari arah Simpang menuju kota Muradua , dimana hamparan kebun jagung membentang luas sepanjang kiri dan kanan jalan.

Menurut data Dinas Pertanian Kabupaten OKU Selatan, saat ini luas pertanian jagung di kabupaten berjuluk Bumi Serasan Seandanan itu adalah 37.210 hektare, dengan produksi 273.519 ton.

Jumlah produksi tanaman jagung, pada 2018 ini akan terus diperluas melalui program Upaya Khusus (Upsus) hingga menjadi di atas 45.000 hektare.

Dengan produktivitas 7,5 ton per hektare, serta kisaran harga Rp. 3000 per kilogram, sudah dapat menjadikan jagung sebagai tumpuan hidup masyarakat OKU Selatan.

Pada tahun 2018, Pemerintah Kabupaten OKU Selatan akan memberikan bantuan bibit jagung untuk 15.000 hektare lahan.

Selain itu, dalam program upsus juga akan diberikan pelatihan dan pembinaan yang kontinyu, agar petani dapat meningkatkan kesejahteraannya, terang Kepala Dinas Pertanian OKU Selatan Asep Sudarno kepada juru warta, Rabu (03/01) pagi di ruang kerjanya.

Namun lanjut Asep, dibalik terus berkembangnya pertanian jagung, pihaknya juga mengkhawatirkan akan dampak daripada sistem pertanian monokultur yang berkepanjangan, dimana sistem itu akan menyebabkan tanah menjadi cepat tandus.

Belum lagi kebiasaan petani jagung yang sering menggunakan pupuk kimia dan pestisida dalam jangka panjang.

Oleh karena itu dinas pertanian meminta kepada para petani jagung agar memberikan selingan dengan tanaman lain seperti kedelai atau tanaman sayuran lain, contohnya cabai.

Selain itu mereka juga dihimbau untuk membiasakan dan membudayakan penggunaan pupuk organik.