Detak-Palembang.com PALEMBANG – Saat ini 42 persen hasil perikanan Indonesia didominasi oleh ekspor udang dan tujuan utama ekspor hasil perikanan Indonesia adalah negara Amerika Serikat. Namun ekspor hasil perikanan Indonesia masih kalah dengan negara tetangga Vietnam.

Ketua Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Budhi Wibowo seharusnya Indonesia lebih unggul dari Vietnam karena luas daerah dan jumlah penduduk.

“Untuk Pangasius/Diri (Ikan Patin) Vietnam menghasilkan 1,3 juta ton pertahun sedangkan kita baru 100 ribu ton pertahun. Saat ini hasil perikanan Indonesia lebih dominan dari tangkap,” urai Budhi Wibowo disela Rakor di Kantor Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM), Kamis (02/11).

Ia menambahkan, Indonesia harus mengutamakan dari hasil budidaya agar bersaing dengan Vietnam. Hasil peoduk perikanan Indonesia kalah karena:

Harga kalah bersaing

Kuantity supplay belum memadai

Belum ada jaminan kontinuitas supplay.

“Agar ekspor kita lebih luas harus dalam bentuk Frozen. Untuk produksi perikanan kita mesti fokus pada satu spesies, Indonesia ingin berbagai spesies tidak mungkin maju kalau seperti itu,” katanya.

Di Indonesia yang memiliki air payau sebaiknya konsentrasi pada udang, air tawar konsentrasi pada ikan patin, air laut konsentrasi pada Baramundi.

“Saat ini saat yang tepat untuk menggantikan Vietnam memasok patin karena saat ini Eropa dan Amerika tidak mau lagi impor dari Vietnam karena beracun. Patin Indonesia unggul dari Vietnam karena budidaya di tambak sedangkan divietnam di sungai mekong,” terangnya.

Keunggulan lainnya, Pangasius Vietnam mengandung zat polypospar  berlebihan mencapai 8000 ppm sedangkan standar yang diperbolehkan 2000 ppm yang berbahaya bagi kesehatan sedangkan lokal lebih baik. Dampak lain dari kelebihan polypospor adalah berat ikan bertambah 50 persen sehingga merugikan konsumen.