Detak-Palembang.Com PALEMBANG – Walaupun Sumatera Selatan merupakan provinsi terkaya nomor 5 di Indonesia tetapi belum dikatakan daerah yang belum makmur karena konsumsi ternaknya masih sedikit dibandingkan dengan daerah lain, hal itu disampaikan oleh Jafrizal, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Wilayah Sumatera Selatan pada kegiatan Seminar Peternakan dan Kesehatan Hewan Berintegritas di Auditorium Bina Praja, Senin (22/10).

Jafrizal mendasarkan pendapatnya pada Adagium bahwa negeri yang mengkonsumsi produk ternak yang banyak adalah negeri yang makmur dan negeri yang mengkonsumsi produk ternak sedikit adalah negeri yang belum makmur. Tidak hanya itu ia mengungkapkan 9 indikator terhadap adagium yang disampaikan.

“Pertama : Menurut data dari Kementerian Pertanian (2017), Produksi daging prov. Sumsel 76.5 juta kg (konsumsi/kapita/tahun 9,25 kg), masih dibawah konsumsi daging nasional sebesar 12.8 kg/kapita/tahun. Kedua : Provinsi Sumatera Selatan merupakan produsen telur ayam nomor 3 se-sumatera (71.303. ton) dan sebagai mengeluarkan/ekspor  telur ayam nomor satu se-Indonesia. 64.6% dari produksi di jual ke luar daerah, sedangkan yang konsumsi masyarakat sumatera selatan hanya 35,4 %, sehingga konsumsi hanya sebesar 3.12 kg/kapita/tahun, angka ini masih jauh di bawah konsumsi nasional yang telah mencapai 8 kg/kapita/tahun. Dalam 365 hari masing-masing kita mengkonsumsi 48 butir telur,” ungkapnya.

Lanjutnya, Ketiga : Produksi daging ayam ras sebesar 37.376 ton/tahun,  maka konsumsi masyarakat Sumatera Selatan berkisar 4.5 kg/kapita/tahun masih di bawah konsumsi daging ayam ras nasional sebesar 5.11kg/kapita/tahun berdasarkan data Departemen Pertanian tahun 2017.  Ia membandingkan dengan negara-negara sedang berkembang, konsumsi unggas berkisar antara 10,5 kg – 14 kg per kapita.

“Keempat : Provinsi Sumatera Selatan menjadi pengimpor sapi nomor satu se-Sumatera atau nomor dua se-Indonesia yakni sebesar 243.572 ekor. Sedangkan produksi daging sapi 18.196 ton, konsumsi masyarakat sumsel baru sebesar 2.2 kg/kapita/tahun bila dibandingkan dengan Provinsi Jawa Timur 2.6 kg/kapita/tahun. Kelima : Tumbuh klinik-klinik hewan dengan pesatnya di kota metropolis ini, kini telah mencapai 23 dokter hewan yang melakukan praktik mandiri dengan 25 usaha petshop, tentu  hadirnya pelayanan Rumah Sakit Hewan Prov Sumsel menjadi harapan yang sangat ditunggu-tunggu para pecinta hewan,” katanya.

Ia melanjutkan, keenam : Sumsel merupakan daerah endemik untuk rabies termasuk kategori kelas resiko tinggi.  Sampai saat ini belum bebas. Serta ketujuh : belum memiliki peraturan daerah tentang peternakan dan kesehatan hewan di Sumsel.  Peraturan daerah (Perda) penting bagi daerah otonom dalam rangka mendukung penyelenggaraan otonomi daerah.

“Kedelapan : dari segi infrastruktur kesehatan hewan  dan SDM, di Sumsel memiliki 236 Kecamatan, yang hanya memiliki  33 Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan). Bila idealnya setiap 1 Puskeswan untuk 1-3 kecamatan (Permentan 64/2017) maka sumsel idealnya memiliki 236 puskeswan.  Maka idealnya butuh 236 medik veteriner fungsional, 472 paramedik dan 472 inseminator. Kita Saat ini memiliki dokter hewan 49 dokter hewan bekerja di pemerintahan dengan jabatan struktural,  paramedik +Inseminator 213 orang. Terakhir dari segi kesehatan masyarakat veteriner, pelayanan untuk memberikan jaminan produk asal hewan ASUH. Di Sumsel belum memiliki unit usaha pemotongan, sapi, kambing dan ayam dan usaha penjualan yang yang ber-Nomor Kontrol Veteriner (kecuali di ritel besar). Sumsel seyogyanya memiliki minimal  6 RPHU yang memiliki rantai dingin,” tutupnya.