Detak-Palembang.com PALEMBANG – Di Sumatera Selatan (Sumsel) banyak terdapat sumur minyak peninggalan Belanda. Sumur tua tetap menghasilkan minyak mentah walaupun tidak ekonomis untuk di tambang oleh Pertamina. Masyarakat di sekitar melakukan penambangan sumur tua secara ilegal.

Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumsel, Robert Heri mengatakan penambangan sumur tua secara ilegal di Sumsel sudah sangat lama bahkan sudah turun-temurun.

“Kita sudah melakukan penutupan penambangan ilegal sejak dua tahun lalu, ini akan menjadi yang terkahir,” tegas Robert Heri di Griya Agung, Kamis (23/11).

Lanjutnya, karena penambangan sumur tua sudah merupakan mata pencaharian masyarakat, pihaknya akan memikirkan langkah kedepannya paska penutupan.

“Kita akan bicara dengan Pertamina dan pihak terkait langkah kedepannya paska penutupan sumur tua. Ada 104 sumur yang akan ditutup,” jelasnya.

Dijelaskannya, Sumur tua selain yang berada di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) juga ada di Kabupaten Muratara, Kabupaten Musirawas dan Kabupaten Pali.

“Jumlah sumur tua yang ada di Pali, Muratara dan Musirawas belum dipetakan, sedangkan sumur tua paling banyak ada di Muba jumlahnya 350 sumuor tua,” urainya.

Selain sudah ditutup oleh pemerintah penambangan sumur tua ini juga ada yang sudah ditutup oleh warga itu sendiri.

“Mengapa penambangan ilegal ini harus ditutup? Ada tiga hal yang menyebabkan penambangan ilegal sumur tua ini harus dilakukan. Pertama kerusakan lingkungan, nilai kerusakan lingkungan tidak sebanding dengan apa yang kita didapat masyarakat,” ungkapnya.

Ditambahkannya, selain itu faktor keselamatan yang menyebabkan penambangan harus ditutup. Sudah beberapa kali terjadi Blowout pada penambangan ilegal.

“Beberapa kali terjadi tumpahan minyak yang menyebabkan kebakaran. Faktor lain penambangan ilegal juga tidak mempunyai kontribusi apapun untuk pemasukan negara,” tutupnya.