Detak-Palembang.com PALEMBANG – Ingin cepat kaya? Tidak perlu dengan pesugihan, cukup mengumpulkan racun kalajengking, anda bisa kaya mendadak. Pasalnya untuk 1 liter racun kalajengking dihargai USD 10,5 juta atau sekitar 145 miliar. Namun butuh berapa banyak kalajengking yang harus diambil racunnya?

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara Musrenbangnas RKP 2019 menyebut racun kalajengking sebagai salah satu komoditas termahal di dunia saat ini. Satu liternya lanjut Jokowi bisa dijual sekitar Rp 145 miliar.

“Komoditas yang paling mahal di dunia adalah racun scorpion, racun dari kalajengking. Harganya USD 10,5 juta, artinya Rp 145 miliar per liter. Jadi kalau mau kaya, cari racun kalajengking,” kata Jokowi saat itu.

Hal tersebut dikatakan peneliti zoologi, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syahfitri Anita, MSi, tidak salah. Ini karena racun kalajengking memang banyak dicari untuk dikembangkan menjadi berbagai macam obat dan hanya sedikit diproduksi.

“Bisa mahal banget karena sudah ada penelitian yang menunjukkan manfaatnya. Tapi produksi racun atau venomnya dari kalajengking itu sangat sedikit, belum lagi kalajengkingnya sendiri susah dicari, makanya harganya jadi mahal,” kata Syahfitri.

Jadi butuh berapa ekor kalajengking untuk menghasilkan satu liter racun? Dilansir oleh Science News for Students, seorang ahli bernama Bora Inceoglu dari University of California menemukan ada satu spesies kalajengking yang bisa menyuntikkan 5-50 mikroliter racun per ekor.

Bila diambil maksimalnya, itu artinya butuh sekitar 20 ribu kalajengking terkait untuk menghasilkan satu juta mikroliter atau satu liter racun. Itu bila setiap ekor mampu menghasilkan racun secara maksimal seperti yang diklaim. Waduh, cari kalajengking sebanyak itu di mana ya?Komentar presiden Joko Widodo soal harga racun kalajengking yang mencapai Rp 145 miliar per liter menuai beragam reaksi. Salah satunya dari peneliti senior Indonesia, Prof Amin Soebandrio.

Prof Amin menyebut pernyataan presiden Jokowi soal ‘ingin kaya cari racun kalajengking’ sejatinya tidak bisa diartikan secara harfiah. Menurutnya, komentar tersebut memiliki makna tersirat soal manfaat keanekaragaman hayati Indonesia.

“Saya menterjemahkan ucapan presiden tidak secara harfiah, mencari kalajengking begitu. Karena kalajengking juga kalau dijual sekilonya cuma berapa, racunnya juga setetes dua tetes,” ungkap Prof Amin.

“Menurut saya kalau kita mau tanda petik kaya, kita harus bisa memanfaatkan sumber daya alam kita. Bukan cuma tanaman, dan hewan yang kelihatan, tapi juga serangga yang kecil-kecil,” tambah Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman ini lagi.

Dikatakan Prof Amin, peneliti-peneliti dari luar negeri datang ke Indonesia tak hanya meneliti tanaman atau koral saja. Serangga dan hewan-hewan kecil seperti kalajengking dan laba-laba juga mendapat perhatian khusus, terutama soal mekanisme bertahan hidup mereka.

Racun pada laba-laba dan serangga sejatinya bukan untuk menyerang manusia. Prof Amin mengatakan racun adalah pertahanan diri hewan untuk bisa bertahan hidup. Karena itu jika diteliti, pemanfaatannya untuk manusia bisa sangat besar.

Ia mencontohkan sengatan lebah yang bisa menyebabkan syok hingga bengkak pada manusia. Dalam beberapa kebudayaan dan pengobatan tradisional, ada terapi sengatan lebah yang justru dipercaya memiliki efek menyembuhkan.

“Jadi kita di-encourage untuk melakukan penelitian ke arah situ. Saya percaya semua hal yang diciptakan di dunia tidak ada yang sia-sia. Hal yang kita anggap racun ternyata bisa saja punya manfaat,” urainya seperti dikutip dari health.detik.com.