Detak-Palembang.com KEDIRI – Kesenian tradisional wayang kulit digelar di lapangan Desa Tegalan Kecamatan Kandat dan gelaran ini berlangsung semalam suntuk, sekaligus menjadi penghibur warga di malam minggu. Wayang kulit semalam suntuk ini diadakan dalam rangka hari jadi Kabupaten Kediri dan disaksikan Danramil Kandat Kapten Inf Sunarjo, Camat Kandat Puji Hermono, serta Kapolsek Kandat AKP Ketut Suparta, Sabtu (24/03).

“Cerita wayang iniu menyiratkan satu pesan, sejatinya sebuah negara tidak akan bisa dibangun tanpa adanya peran masyarakat. Oleh sebab itu sejatinya seorang pemimpin harus memiliki keberpihakan terhadap aspirasi-aspirasi masyarakat,” ujar Puji Hermono.

Menurutnya, cerita wayang ini mengingatkan kepada seluruh masyarakat bahwa sejatinya untuk menjadi seorang pemimpin dia harus punya keberpihakan. Semar, lanjutnya dikenal sebagai tokoh punakawan jelmaan dewa, yang juga memiliki sebutan Ki Sampurnajati.

Dengan lakon “Petruk dadi ratu mbangun candi sapto argo”, Ki dalang Didik Wibisono menceritakan, saat gonjang-ganjing sudah sampai pada taraf yang sangat tidak wajar, para punakawanmulai membangkang. Puncak pembangkangan terjadi ketika Petruk melabrak Kahyangan Jonggring Saloko, mengobrak-abrik dan mendekonstruksi tatanan yang selama ini dipakai para penguasa.

Arjuna, sang sang pimpinan yang biasanya dilayani punakawan, dipaksa mematuhi titah Petruk, sang raja baru. Saat itulah Petruk membuka seluruh aib para penguasa. Yang perlu disingkapi dalam lakon ini adalah bukan khayalan seperti versi umum, melainkan adalah Petruk sebagai pemimpin revolusi yang menjungkir balikan tatanan khayangan yang pada saat itu memang sudah sangat kacau. Petruk merevolusi semua tatanan agar kembali pada tempat yang semestinya.